Sepenggal fiksi yang tak jadi


"Kei.."
"Hmmh.."
"Aku pergi dulu.."

Kali ini tak ada jawaban.  Malah buku tipis Murakami yang dijenakinya sejak selepas subuh dilemparnya ke samping, bergegas memeluk tubuh lelakinya yang yang mewangi citrus, menenggelamkan wajahnya di pinggang, sementara kedua tangannya lekat, erat.

Pelan-pelan, wajahnya menengadah, sambil tersenyum memohon, lalu lirih berucap..

"Nanti dulu.."

Udara kamar kembali menghangat dan lembab. Aroma vanilla kembali membuat citrus kalah dan kehilangan orientasi.

**

El memicingkan matanya sesampai pintu keluar, sudah lewat jam sepuluh pagi, matahari di kota itu terasa lebih cepat meninggi dibanding permukaan bumi manapun. Meninggalkan perempuannya yang kembali lelap, mengejar sisa waktu dengan janji akan proyeknya nanti malam, sesekali matanya melirik ke angka digital di pergelangan tangannya, sebelum Ford yang disewanya akhirnya tiba, dua menit lebih lambat dari kesepakatan.

**

Tak seperti dugaan El. Kei bangkit dari gelungan selimut tebalnya, tak lama setelah lelakinya berjingkat-jingkat keluar kamar dan menutup pintu pelan-pelan supaya tak menganggu. Menarik napas pelan, meminum segelas air bening, lalu ke kamar mandi di sudut barat, menyalakan shower dan membiarkan wangi tubuhnya luruh bermenit-menit dirajam butiran air.

**

Bel kamar berbunyi.  Ada yang mengantarkan sesuatu di bawah nampan yang bertutup tudung perak cembung bergagang mungil di puncaknya.  Dahinya mengernyit, kedua ujung alisnya bertaut. Tapi senyum kembali mengembang, sedikit tersipu melihat menu sarapan sederhana yang tersaji tanpa diminta.

**

(bersambung, entah kapan disambung, kebiasaan sih ngarang tanpa kerangka, ujung-ujungnya mesti bingung :)) )

Komentar

  1. @icit
    nanti deh bikin kerangkanya lg pas iseng, jd keinget dulu jg bbrp kali bikin fiksi nanggung lalu nggantung ga jelas :))

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rekomendasi Toko & Bengkel Sepeda di Jogja

tentang HMNS

Abdi bogoh ka anjeun