Langsung ke konten utama

#29 Goals for the future

Baiklah, terkait masa depan. Apa ya.  Sekarang sih simpel sahaja maunya.  Mimpinya ntar ya pensiun dengan tenang, anak-anak bisa sekolah dengan nyaman, hidup di rumah sendiri yang dengan peralatan bengkel yang lengkap.  Mungkin kalo niat ya punya usaha sendiri, sesekali menulis.

Entahlah, pertanyaan tentang masa depan seringkali membingungkan saya.  Intinya ingin hidup damai tanpa mikirin macem-macem lagi, dan tanpa ada masalah deh.  Mungkin juga menjauh dari keramaian.  Sesekali sepedaan touring rada jauhan.

Hedeh, ga seru ya haha.  Lagian rasanya makin lama makin ga punya keinginan yang macam-macam, lha mau apalagi kalo semua hal yang esensial rasanya sudah tercapai.  Keinginan sekolah sampai ujungnya sudah kesampaian, mimpi kulkas yang terisi penuh sudah terwujud nyata, cewek yang dulu sering bikin kangen karena sering jauh-jauhan sudah deket.

Ya mungkin juga penentuan tujuan masa depan itu kadang begitu sulit dirumuskan karena ga terbiasa merencanakan sesuatu dengan mateng, masak aer biar...


Komentar

  1. Wah, part sekolah sampai ke ujungnya itu sih yang keren. Hahaha...pengen merasakan perasaan sekolah udah sampe ujungnya jadi gak mikirin sekolah lagi. Atau masih? 😆

    BalasHapus
    Balasan
    1. sebagian dari diriku sih masih pengen lanjut :))

      Hapus
  2. Wah mau buka bengkel rakit dan kustom sepeda nih. Ongkir sepeda ke dan dari Bekasi pasti mahal.

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehe ya ga segitunya, paman. kalo bikin custom perlu ilmu yg mumpuni je, saya mah cetek sekali pengetahuan soal geometri sepeda hehe

      Hapus
  3. Paragraf pertama, "wah iya, ya." Kedua, ketiga... iya juga. Wes aku setuju intinya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. nah, kan kan kan. apa lg yg dicari coba?

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

ada apa hari ini

 rencananya adalah: hunting komik lagi di lapak depan jalan nyuci sepeda bikin materi untuk ngajar besok, artinya kudu baca ulang lagi materinya belajar swot, skoringnya masih belum ngerti, hedeh.. mudahan mahasiswaku ga baca blog ini haha sepedaan bentar sore-sore.. dan sepagi ini, saya kembali, iya kembalai, men- deactive akun-akun sosmed saya, dan lagi-lagi, saya tak tahu sampai kapan itu berlangsung, toh siapa juga yang nyari saya kan haha kecuali blog ini, tampaknya tetap dipertahankan aktif untuk menumpahkan kisah-kisah tak jelas sepanjang waktunya.. tadinya kepikiran untuk menghapus akun whatsapp  untuk sementara waktu, tapi tak bisa karena ada terkait kerjaan di kantor, walau akhir-akhir ini tak begitu ada kerjaan juga, jadi ya mungkin ditengok sesekali saja. itu saja dulu, eh apa saya perlu.. hedeuh apa tadi lupa

tentang 2021

 sebuah refleksi akan tahun 2021 yang awut-awutan, bagaimana harus memulainya ya, toh saya sebenarnya tak bisa juga menceritakannya #lah 😅 lagian rasanya terlalu dini ya untuk bikin refleksi, eh benarkah demikian? yang jelas saya punya beberapa kawan baru, punya pengalaman baru, menemukan hal-hal baru, mendapatkan apa yang saya inginkan walau terlihat sederhana, soal detilnya. nah itulah susah menceritkannya.. oke salahsatunya adalah akhirnya saya bisa menjejakkan kaki ke satu kabupaten di provinsi ini yang belum pernah saya datangi: Kotabaru.   soal lain-lainnya rasanya kurang lebih sama, masih aja susah ngomong di depan orang banyak, saya harus lebih banyak belajar lagi, terutama: belajar meminimalisir rasa malas..

#54 tentang pikiran, keluhan dan ikhlas melepas

.. kemarin, saya membuka-buka arsip disertasi saya, membaca sekilas beberapa bagiannya, dan memutuskan untuk malu.  Saya makin yakin bahwa hanya keberuntungan saja yang bikin saya bisa menyelesaikan studi empat tahun yang lalu itu. Bahkan bagian referensi pun, benang merahnya kurang kuat, ada beberapa bagian yang bikin kening saya mengkerut sambili berpikir: dulu saya ngapain dan gimana saja mikirnya haha.  walaupun kalau mengingat prosesnya yang begitu ... ya tujuh tahun yang mungkin benar-benar seperti roller coaster  paling buruk sedunia.  Sudahlah, mengenang hal-hal yang kurang baik seringkali lebih detil daripada mengenang hal-hal bagus. saya juga mikir, kemarin diam-diam hidup saya juga banyak dilingkari keluhan, sana-sini, padahal penyebabnya ya diri sendiri juga, yang keras kepapa dan sering menganggap diri sendiri yang paling benar.  Padahal ya, saya selalu bilang sama kawan-kawan, seringkali dan sebagian besar masalah hidup seseorang itu ya karena dirinya sendiri.  Tak perlu