Langsung ke konten utama

alternatif pengganti ms office

kala ngerjain disertasi, beberapa tahun yang lalu, saya bersikeras ngga pake aplikasi bajakan, dari OS, aplikasi SEM sampai office.  Jadi aja dulu maksa pake Debian, jadinya pengganti office pun disesuaikan.  Walau pada beberapa titik, saya kepaksa juga make ms office-nya windows, terutama pas mau ngeprint di rental/ percetakan.  Layoutnya bisa berubah je, mengesalkan memang.

Andalan saya kadang Libre, kadang WPS. WPS sih lebih mirip dengan dan kompatibel dengan officenya windows.  Tapi di beberapa bagian saya lebih suka Libre, terutama untuk aplikasi pengolah kata.

Hedeh ribet menuliskannya ternyata. Udah gitu aja dah.

Komentar

  1. Saya pikir mahasiswa doktoral lebih suka LaTeX hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. saya justru baru tau aplikasi itu mas hehe

      Hapus
  2. Aku pakai Libre dan WPS juga, dipakai gantian kalau mood sama tergantung mana yang ga amburadul kalo buka file word punya orang. Salah satu yang aku suka dari dua program itu bisa mengatur warna kertas atau halaman yang mau ditulis. Bosan kan kalo warnanya putih aja. Tapi belakangan lebih sering pakai fitur Google Docs :))

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya google docs saya jg seneng, tp kadang ada beberpa fitur yg saya ga temuin di situ, mungkin saya jg masih kurang eksplore sih hehe

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

ada apa hari ini

 rencananya adalah: hunting komik lagi di lapak depan jalan nyuci sepeda bikin materi untuk ngajar besok, artinya kudu baca ulang lagi materinya belajar swot, skoringnya masih belum ngerti, hedeh.. mudahan mahasiswaku ga baca blog ini haha sepedaan bentar sore-sore.. dan sepagi ini, saya kembali, iya kembalai, men- deactive akun-akun sosmed saya, dan lagi-lagi, saya tak tahu sampai kapan itu berlangsung, toh siapa juga yang nyari saya kan haha kecuali blog ini, tampaknya tetap dipertahankan aktif untuk menumpahkan kisah-kisah tak jelas sepanjang waktunya.. tadinya kepikiran untuk menghapus akun whatsapp  untuk sementara waktu, tapi tak bisa karena ada terkait kerjaan di kantor, walau akhir-akhir ini tak begitu ada kerjaan juga, jadi ya mungkin ditengok sesekali saja. itu saja dulu, eh apa saya perlu.. hedeuh apa tadi lupa

tentang 2021

 sebuah refleksi akan tahun 2021 yang awut-awutan, bagaimana harus memulainya ya, toh saya sebenarnya tak bisa juga menceritakannya #lah 😅 lagian rasanya terlalu dini ya untuk bikin refleksi, eh benarkah demikian? yang jelas saya punya beberapa kawan baru, punya pengalaman baru, menemukan hal-hal baru, mendapatkan apa yang saya inginkan walau terlihat sederhana, soal detilnya. nah itulah susah menceritkannya.. oke salahsatunya adalah akhirnya saya bisa menjejakkan kaki ke satu kabupaten di provinsi ini yang belum pernah saya datangi: Kotabaru.   soal lain-lainnya rasanya kurang lebih sama, masih aja susah ngomong di depan orang banyak, saya harus lebih banyak belajar lagi, terutama: belajar meminimalisir rasa malas..

#54 tentang pikiran, keluhan dan ikhlas melepas

.. kemarin, saya membuka-buka arsip disertasi saya, membaca sekilas beberapa bagiannya, dan memutuskan untuk malu.  Saya makin yakin bahwa hanya keberuntungan saja yang bikin saya bisa menyelesaikan studi empat tahun yang lalu itu. Bahkan bagian referensi pun, benang merahnya kurang kuat, ada beberapa bagian yang bikin kening saya mengkerut sambili berpikir: dulu saya ngapain dan gimana saja mikirnya haha.  walaupun kalau mengingat prosesnya yang begitu ... ya tujuh tahun yang mungkin benar-benar seperti roller coaster  paling buruk sedunia.  Sudahlah, mengenang hal-hal yang kurang baik seringkali lebih detil daripada mengenang hal-hal bagus. saya juga mikir, kemarin diam-diam hidup saya juga banyak dilingkari keluhan, sana-sini, padahal penyebabnya ya diri sendiri juga, yang keras kepapa dan sering menganggap diri sendiri yang paling benar.  Padahal ya, saya selalu bilang sama kawan-kawan, seringkali dan sebagian besar masalah hidup seseorang itu ya karena dirinya sendiri.  Tak perlu