Langsung ke konten utama

tentang Mojok.co

..saya masih belum begitu sreg dengan situs yang penuh tulisan-tulisan satir dan sarkas itu, kentara banyak penulisnya yang masih kakean teori dan keterbatasan referensi hidup (terkecuali rubrik otomojok ketoke)..

tapi toh saya cuma bisa ngedumel sendiri tanpa bisa memberi argumen balasan atau malah balas menghantam balik opini para anak muda yang tampaknya cuma bisa nyari sisi salah dari objek apa pun itu.

di mata saya sih begitu.
loh kok saya jadi ikutan sarkas dan satir

mbuh lah,
dan ujug-ujug saya malah barusan ngirim satu tulisan tak terstruktur dan tak berfaedah ke situs itu, dan saya yakin sekali tulisan saya bakal ditolak mentah-mentah, wes karepmu, jok!

Komentar

  1. Balasan
    1. waiki fans setengah matinya mojok nongol :v

      Hapus
  2. Cuma beberapa saja dari penulis Mojok yang bisa menulis satire dengan baik. Selebihnya terlalu memaksakan diri untuk menjadi satire.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pengamatan njenengan mantap jg euy, saya ga sampe mikir segitunya 🙏

      Hapus
    2. Tapi saya kuangen sama penulis yang bikin saya terpingkal-pingkal di blog ngerumpi.com yang sekarang udah tutup dan jadi beritagar.id itu.

      Hapus
    3. Wah baru tau kalo njenengan suka baca situs lawas itu jg, dan penulis yg dimaksud mesti synyster 😀

      Hapus
  3. aku penikmat beberapa penulis, tidak semua. tapi aku penyuka mojok sih



    penikmat beberapa penulis ini sounds wrooong yaaaa XD

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hmm penikmat penulis 😶 ... 😅

      Mesti salahsatunya agus magelangan..

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

ada apa hari ini

 rencananya adalah: hunting komik lagi di lapak depan jalan nyuci sepeda bikin materi untuk ngajar besok, artinya kudu baca ulang lagi materinya belajar swot, skoringnya masih belum ngerti, hedeh.. mudahan mahasiswaku ga baca blog ini haha sepedaan bentar sore-sore.. dan sepagi ini, saya kembali, iya kembalai, men- deactive akun-akun sosmed saya, dan lagi-lagi, saya tak tahu sampai kapan itu berlangsung, toh siapa juga yang nyari saya kan haha kecuali blog ini, tampaknya tetap dipertahankan aktif untuk menumpahkan kisah-kisah tak jelas sepanjang waktunya.. tadinya kepikiran untuk menghapus akun whatsapp  untuk sementara waktu, tapi tak bisa karena ada terkait kerjaan di kantor, walau akhir-akhir ini tak begitu ada kerjaan juga, jadi ya mungkin ditengok sesekali saja. itu saja dulu, eh apa saya perlu.. hedeuh apa tadi lupa

tentang 2021

 sebuah refleksi akan tahun 2021 yang awut-awutan, bagaimana harus memulainya ya, toh saya sebenarnya tak bisa juga menceritakannya #lah 😅 lagian rasanya terlalu dini ya untuk bikin refleksi, eh benarkah demikian? yang jelas saya punya beberapa kawan baru, punya pengalaman baru, menemukan hal-hal baru, mendapatkan apa yang saya inginkan walau terlihat sederhana, soal detilnya. nah itulah susah menceritkannya.. oke salahsatunya adalah akhirnya saya bisa menjejakkan kaki ke satu kabupaten di provinsi ini yang belum pernah saya datangi: Kotabaru.   soal lain-lainnya rasanya kurang lebih sama, masih aja susah ngomong di depan orang banyak, saya harus lebih banyak belajar lagi, terutama: belajar meminimalisir rasa malas..

#54 tentang pikiran, keluhan dan ikhlas melepas

.. kemarin, saya membuka-buka arsip disertasi saya, membaca sekilas beberapa bagiannya, dan memutuskan untuk malu.  Saya makin yakin bahwa hanya keberuntungan saja yang bikin saya bisa menyelesaikan studi empat tahun yang lalu itu. Bahkan bagian referensi pun, benang merahnya kurang kuat, ada beberapa bagian yang bikin kening saya mengkerut sambili berpikir: dulu saya ngapain dan gimana saja mikirnya haha.  walaupun kalau mengingat prosesnya yang begitu ... ya tujuh tahun yang mungkin benar-benar seperti roller coaster  paling buruk sedunia.  Sudahlah, mengenang hal-hal yang kurang baik seringkali lebih detil daripada mengenang hal-hal bagus. saya juga mikir, kemarin diam-diam hidup saya juga banyak dilingkari keluhan, sana-sini, padahal penyebabnya ya diri sendiri juga, yang keras kepapa dan sering menganggap diri sendiri yang paling benar.  Padahal ya, saya selalu bilang sama kawan-kawan, seringkali dan sebagian besar masalah hidup seseorang itu ya karena dirinya sendiri.  Tak perlu