Langsung ke konten utama

tentang jaket dan alasan-alasan lainnya

Ruangan kerja saya saat ini lumayan sempit, mungkin sekitar empat kali enam meter, isinya adalah empat meja beserta kursi, filling kabinet, dua rak lumayan kecil, dispenser, beserta empat orang pekerja.

Tapi bukan luasnya ruangan masalah utama bagi saya.

Beberapa kali, rupanya ada rekan kerja yang memperhatikan kebiasaan saya memakai jaket di sekitar lingkungan kantor, dan sepertinya dia  belum menemukan alasan kenapa saya suka begitu.  Sampai tadi siang.

Rekan saya itu duduk, di samping kiri saya, tepat berhadap-hadapan dengan penyejuk udara, atau lebih tepatnya pendingin udara.  Dia rupanya melihat angka dua puluh dua derajat celcius yang tertera di display.

Kemudian bertanya kenapa suhunya tidak dinaikkan, dan mulai melihat hubungan antara kegemaran saya pakai jaket dengan dinginnya ruangan yang tak seberapa luas itu.

Jawabannya cukup sederhana, remote control pengatur suhunya memang sudah raib semenjak, bahkan sebelum saya turut menyesaki ruangan itu. 

Saya yang suka masuk angin dan pilek dibuatnya, anehnya tak juga berusaha, paling tidak belum, mencari remote pengganti.

Bulannya belum juga, sih.  Pernah mencoba tapi tidak cocok, akhirnya ya sudah. Suhu pendingin setia di duapuluh derajat celcius.

Sementara, daya tahan saya terhadap benda itu, sampai saat ini, maksimal ada di kisaran 26-27 derajat.

Tapi, karena hal itu, apa semua orang tahu, apa semua harus tahu, hubungan antara jaket saya, dingin ruangan, remote rusak, posisi meja dan daya tahan tubuh saya?

Saya kira tidak, semua orang punya alasan, punya batas, atas sesuatu, dan itu berbeda-beda pada tiap orang.


Kembali pada contoh simpel di atas, toh di antara orang-orang di ruangan,  sepertinya saya saja yang mengalami kombinasi hal-hal di atas, yang lain tak ada masalah apa-apa.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rekomendasi Toko & Bengkel Sepeda di Jogja

Sejak 'mengenal' sepeda, beberapa kawan yang sangat mengerti anatomi, morfologi dan histologi sepeda, saya pun memberanikan diri memberi rekomendasi beberapa toko dan bengkel sepeda di Jogja yang harus disambangi dikala sepeda memerlukan perawatan dan penggantian suku cadang.

Rekomendasi tempat-tempat ini berdasarkan pertimbangan: harga, kelengkapan ketersediaan suku cadang, hasil seting sepeda dan pengalaman empunya bengkel.  Juga pengalaman beberapa kawan saat membeli spare part ataupun memperbaiki sepedanya.  Rata-rata setiap toko atau tempat yang menyediakan sepeda dan suku cadangnya juga menyediakan tempat dan tenaga untuk seting dan reparasi, tapi tak semua hasilnya bagus.

Bengkel sepeda Rofi (Rahul Bike),  pemiliknya adalah teman saya di komunitas sepeda Federal, tapi menurut sejarah awalnya justru beliau akrab dengan sepeda-sepeda keluaran baru.  Hasil seting sepeda mas Rofi ini sudah sangat dapat dipertanggungjawabkan, hal ini bisa dilihat dari jejak rekamnya, dima…

Abdi bogoh ka anjeun

Itu artinya saya suka kamu, kan bah?"

tanya bang Ai beberapa saat yang lalu.

Hoh? Saya tak langsung menjawab, malah curiga, darimana pula dia dapet kosa kata ajaib itu, jangan-jangan..

"bang Ai baca dimana?"
"di kertas.."

Tuh, kan.  Itu kan kalimat sakti yang beberapa kali saya tulis untuk seseorang pada jaman dahulu kala hihi.  Jangan-jangan bang Ai iseng baca-baca koleksi surat saya yang beberapa kotak sepatu itu.  Persis kelakuan Cinta di AADC2.  Duh, saya jadi suudzon..

" di kertas mana?" tanya saya lagi sambil deg-degan sendiri #hayaah haha
" ini bah, di kertas bungkus permen karet.." malah Q yang menyodorkan bekas bungkus permen karet yang bertuliskan macam-macam kalimat dari beberapa bahasa..

Walah, ada-ada sahaja..

tentang kang Lantip

siapa sih yg ndak kenal sama blogger asal Njogja yg bernama kang Lantip kui.  Kecuali dirimu ndak kenal blog, saya sedari dulu tau tapi sungkan kenalan dengan beliau, soalnya ketoke terkenal sekali.  Tujuh taun hidup di Jogja malah tak pernah ngobrol sekalipun dengan beliau itu, lha kan nyebahi sekali saya ki, ga sopan sama tuan rumah hihi

lucunya, saya jadi bertekat ingin ketemu dengan beliau itu gara-gara kami satu pemahaman mengenai panganan bulet ijo bernama KLEPON! yang disesatkan sedemikian rupa oleh oknum-oknum tak bertanggungjawab yang malah keukeuh kalau makhluk itu adalah Onde-onde, wooo ngawur.

Jadi aja, kmaren malam janjian di warung kopi, yang posisinya padahal deket dengan tempat saya tinggal dulu, tapi saya justru ga ngeh: namanya warung kopi Blandongan.  Woh kopinya ampuh tenan, mampu bikin mata saya tadi malam super cerah sampai menjelang sahur haha

Dan, sosok kang Lantip ternyata jauh dari bayangan saya, lha habisnya saya kebayang ikon gajahnya beliau je, duh nuwun s…