Rabu, 06 September 2017

tentang jaket dan alasan-alasan lainnya

Ruangan kerja saya saat ini lumayan sempit, mungkin sekitar empat kali enam meter, isinya adalah empat meja beserta kursi, filling kabinet, dua rak lumayan kecil, dispenser, beserta empat orang pekerja.

Tapi bukan luasnya ruangan masalah utama bagi saya.

Beberapa kali, rupanya ada rekan kerja yang memperhatikan kebiasaan saya memakai jaket di sekitar lingkungan kantor, dan sepertinya dia  belum menemukan alasan kenapa saya suka begitu.  Sampai tadi siang.

Rekan saya itu duduk, di samping kiri saya, tepat berhadap-hadapan dengan penyejuk udara, atau lebih tepatnya pendingin udara.  Dia rupanya melihat angka dua puluh dua derajat celcius yang tertera di display.

Kemudian bertanya kenapa suhunya tidak dinaikkan, dan mulai melihat hubungan antara kegemaran saya pakai jaket dengan dinginnya ruangan yang tak seberapa luas itu.

Jawabannya cukup sederhana, remote control pengatur suhunya memang sudah raib semenjak, bahkan sebelum saya turut menyesaki ruangan itu. 

Saya yang suka masuk angin dan pilek dibuatnya, anehnya tak juga berusaha, paling tidak belum, mencari remote pengganti.

Bulannya belum juga, sih.  Pernah mencoba tapi tidak cocok, akhirnya ya sudah. Suhu pendingin setia di duapuluh derajat celcius.

Sementara, daya tahan saya terhadap benda itu, sampai saat ini, maksimal ada di kisaran 26-27 derajat.

Tapi, karena hal itu, apa semua orang tahu, apa semua harus tahu, hubungan antara jaket saya, dingin ruangan, remote rusak, posisi meja dan daya tahan tubuh saya?

Saya kira tidak, semua orang punya alasan, punya batas, atas sesuatu, dan itu berbeda-beda pada tiap orang.


Kembali pada contoh simpel di atas, toh di antara orang-orang di ruangan,  sepertinya saya saja yang mengalami kombinasi hal-hal di atas, yang lain tak ada masalah apa-apa.

0 komentar:

Posting Komentar

tentang rusuh

jadinya, akibat soal pemilu yang tak berkesudahan ini, karena tentu saja pihak yang tak mau kalah, keras kepala dan super nyebelin, ditambah...

 
;