Langsung ke konten utama

P.N.S hari 1

Niat untuk Pulang kampung Naik Sepeda (PNS) itu sudah terbit di hati sejak lama, dan lama-lama malah makin membatu menjadi semacam nazar yang ingin diwujudkan saat masa studi saya selesai.

Dan akhirnya saat itu pun tiba, waktu saya di Jogja sudah usai, niat pun harus diwujudkan.  Jadilah hari minggu kemarin dengan persiapan seadanya saya berangkat ditemani sahabat pesepeda yang sudah sering menemani sepedaan kesana kemarin: mas Radit.

Kira-kira jam 7 pagi perjalanan dimulai dari Janti, tak berapa lama teman pesepeda lainnya: mas Andi nyusul, katanya pengen nganter sampai Prambanan.  Setelah mampir sarapan soto bentar, lalu misah di Prambanan.

Perjalanan lancar sampai Karangpandan, walau sempat tertahan hujan sebentar sehabis maghrib. Perjalanan hari pertama berakhir di Tawangmangu sekitar jam 9 malam.  Kemudian memutuskan nginep di masjid At Taqwa yang letaknya persis seberang terminal Tawangmangu.

Senin pagi perjalanan dilanjutkan dengan target minimal sampai Cemorosewu..


Komentar

  1. Kueren sangat! Semoga selamat sehat lancar sampai tujuan.

    BalasHapus
  2. ini ciyus sampe borneo? omoooooooo....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lha iya, yg jelas nyampe sby sik, dr situ baru diputuskan tar nyeberang pake apaan 😂

      Hapus
    2. kira-kira sampe surabaya kapan om? kobdaaaaaaaaar

      Hapus
  3. Haiiiih... kenapa cerita hari pertama syingkat syekali...

    BalasHapus
    Balasan
    1. saya lg ga bisa cerita panjang kyk njenengan kui je

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

jejak bubin Lantang

jika ditanya salah satu kota yang ingin saya datengin sejak berpuluh tahun yang lalu, jawaban saya pastilah: Bandar Lampung.  Tentu karena nama-nama sudut kota itu lekat di otak saya, gara-gara karya bubin Lantang itulah. dan saya, akhirnya menjejakkan kaki juga di tanah impian itu.  Sengaja dari penginepan, naik gojeg ke Jl. Manggis.  Itu kalo di serial Anak-anak Mama Alin adalah lokasi rumahnya Wulansari- ceweknya 'Ra. Sedangkan di novel Bila, itu adalah jalan tempat kediamannya Puji- ceweknya Fay. di Bila, malah jelas dibilangin nomer rumahnya: empatbelas, ya persis nomer rumah saya dulu di kampung.  Melihat plang nama jalan Manggis saja saya senang tak terkira.   Apalagi habis itu menemukan rumah bernomor 14.  Dan saya baru tau kalo itu rumah pegawai perusahaan kereta api.  Rumah tua memang, persis seperti yang digambarin di buku. Belum cukup senang saya, saat berjalan ke arah barat, ternyata ujung jalan bermuara ke Pasir Gintung! Tempat legendaris yang digambarkan sebaga

#38. Tiga kali 3 Blog Favorit

Sesekali ikutan kuis di blognya orang, kebetulan masih ada aja yang suka seru-seruan bikin kuis-kuisan semacam itu hehe.  Baru mengetik satu baris pun, saya sudah terbayang blog-blog yang seringkali saya tunggu apdetannya, walau kenyataannya dari tiga blog yang saya sering tunggu-tunggu itu, ada satu yang sudah lama tenggelam dengan kesibukan dunia kerjanya. Satunya lagi apdetannya kadang-kadang tapi masih cukup sering apdet lagi sekarang, satunya lagi entahlah, dia apdet sesuai mood hehe Sebenernya banyak sih blog yang suka saya kunjungi, dan ya biasanya tentu saya kunjungi kala mereka apdet di akun feedly saya.  Tapi soal favorit, tiga ini yang otomatis kepikiran. / 1. blognya jeung Indie. https://sumpahserapahku.blogspot.com/ Gaya berceritanya bebas dan semau-maunya, ntapi rapi dan suka panjang-panjang. Gaya bahasanya asik, dan sering membawa bertualang ke jaman 80-90-an haha.  Terakhir kali apdet nyaris tiga tahun yang lalu, tapi saya tak pernah bosan menunggu beliau khilaf dan ap

#39. Takka Steel Bike Conseres (TSBC 150)

Tahun 2020 kemarin, saya melihat postingan temen saya mas Agung Nugroho di facebook yang memamerkan sepeda lipat barunya.  Unik bentuknya, double tubing -nya mengingatkan saya pada doppelganger yang dulu sempet mau saya beli dari temennya istri namun batal.  Sekilas seperti perkawinan antara troy dan doppelganger . Setelah saya cari-cari informasi, itu bikinan lokal, sepeda lipat keren itu buatan mas Adhitya Atmadja dari Karanganyar.  Yang dijual cuma berupa frameset, sistem pre order , yang waktu saya awal tertarik konon antriannya sudah beberapa bulan ke depan. Nama sepedanya Takka Steel Bike seri Conseres. Nama yang berasal dari nama putra buildernya. Menariknya lagi, harga frameset tidak begitu mahal, untuk ukuran handmade, frame sepedalipat seharga 3.25 juta masih termasuk wajar untuk sebuah karya seni.  Saya anggap begitu karena benar-benar bukan pabrikan massal, sampai saat ini, rata-rata sehari cuma menghasilkan 1 (satu) frame, makanya kudu sabar menunggu pesanan selesai.