Langsung ke konten utama

tentang Fiksi lama


bongkar-bongkar arsip, tak sengaja malah nemu fiksi entahlah, saya malah lupa sama sekali kalau pernah bikin itu.  Semacam serial singkat yang diberi judul Halo..
___

Halo..

“Halo..” Begitu saja, selalu. Ucapmu. Tak kurang, dan jelas tak lebih.
Hanya tambahan tatap mata setengah sayumu, sudah default tampaknya, membius langkah hingga perjalan singkat jam delapan pagi pun usai, menyesali kenapa lift begitu cepat mengangkat tubuh ke lantai delapan belas.

Kau pun bergegas keluar, tertunduk-tunduk, betis indahmu melangkah cepat, rambut hitam sebahumu ikut bergerak cepat, bergoyang-goyang seiring langkahmu begitu pintu lift terbuka.

Cuma beberapa detik kilasan itu ternikmati, nyaris setiap pagi. Tak sampai satu menit. Tapi selalu kuanggap itu pagi yang terbaik. Sebelum aku meneruskan perjalanan ke atas, lima lantai lagi.

***
“Halo..” Lagi-lagi kata yang singkat itu. tertunduk lagi. Jam delapan lagi, lantai delapan lagi. Tapi hari ini ada yang lain, ah rupanya memang ada yang sedikit beda. Warna pastel yang biasa membalut tubuhmu tak ada hari ini, pilihan warnamu hari ini gelap. Jangan-jangan menyesuaikan langit yang tak jua menunjukkan tanda-tanda bersahabat sedari tadi malam. Sekilas matamu terlihat berair, cuma sekilas, seiring nada halo yang sedikit menurun nadanya.

Ah, sampai kuhapal detil tentangmu. Cuma sekilas pula pikiranku berkelebat, sebelum lift terbuka, lalu kau berjalan cepat meninggalkan lift yang menyisakan wangi khasmu.

****
“Halo…” Aku menoleh, nada suaranya, suaramu, yang renyah, terdengar lagi. Hari ini Senin, rasanya lama tak terdengar sapaan itu, padahal cuma terpisah hari minggu, yang mungkin menyenangkan bagi sebagian orang, tapi anehnya, sebulan ini jadi menjadi membosankan bagiku.

Pertemuan singkat denganmu di dalam kotak pengangkut ini, sudah menjadi candu, menjadi sarapan wajib, yang selalu menagih untuk diulangi lagi besok paginya. Baru aku sadar, cuma pagi yang mengantarkanmu bersatu waktu denganku, sore atau malam hari, saat semua kerja usai, saat semua penat lerai, tak pernah kujumpa kau.

Pagi ini, kembali warna pastel itu hadir, dan oh kali ini kau tak tertunduk, tapi memandang sekilas padaku. Sebuah senyum yang tak pernah kulihat. Senyum yang ternyata mampu mengabadikan pagi yang hangat ini abadi sampai malam hari. Tapi lagi-lagi cuma sekilas, walaupun itu kurasa cukup.

***

“Halo..” Suara itu, intonasi itu, mata sayu itu, senyum itu, mengambang di udara, menembus inderaku. Surprise sekali.

Bukan karena pengucapnya, ataupun penampilannya yang berubah. Walau, nyatanya sedikit berubah, ada letih yang tergambar saat sekali ini, lagi akhirnya tatapan mata sayu itu, berhasil kutangkap. Lagi-lagi cepat-cepat kau tertunduk.

Kejutan hari ini adalah, kau megucapkannya saat waktu menunjukkan jam delapan malam. Saat senyap sudah begitu terasa di seluruh sudut gedung. Entah ada apa dengan hari ini, sehingga akhirnya jalur waktu aku dan dia, bertabrakan, bertemu juga, setelah dua bulan berlalu.

Lagi-lagi, aku tak bisa menahan waktu, lift begitu cepat menghunjam ke lantai dasar. Artinya menunggu pagi lagi, baru bisa menikmati keberadaanya.
Melangkah pelan, tidak tergesa seperti biasanya, kuiringi saja langkahnya. Dia menoleh sekilas, tersenyum. Sesampainya di teras, menoleh ke kanan jalan, yang anehnya lebih sepi dari biasanya.

Entah karena bodoh, atau karena pikiran masih saja penuh dengan tugas yang harus diselesaikan lagi besok harinya, aku berdiri saja disisinya, di depan teras gedung. Menemaninya nyaris limabelas menit, taksi tak jua lewat.

Kudengar helaan nafas, aku menoleh. Matanya gelisah, sebentar-bentar melihat arlogi hitam di pergelangan kirinya.

Tak tahan, kutawarkan saja diri. Tak peduli nantinya gimana.

“Maaf, saya kebetulan bawa motor. Mau saya antar pulang..”

Perlahan wajahnya berpaling, menatapku, mengira-ngira.
tersenyum datar, lalu perlahan mengembang.

“Boleh?” Lagi-lagi pilihan kata yang singkat.
Ku jawab dengan anggukan cepat. “Tunggu sebentar..”

Tak lama, kau naik di belakang, setelah sebelumnya mengatakan tujuanmu, dan ucapan terimakasih. Sebuah kalimat terpanjang yang pernah kudengar dari mulutmu yang, kuakui menggoda, apalagi dihias suaramu yang renyah tak habis-habis.

Malam pun terbelah, jalanan terasa hangat.
Pelukan lembut di belakang,melupakanku akan satu hal.

Kecepatan motor sedikit diturunkan, membuka kaca penutup helm, menoleh sedikit ke belakang. Setengah berteriak
“Namamu, siapa… ?”

Tak terdengar jawaban, hanya pelukannya yang semakin terasa makin lekat.
Motor pun melaju…

Halo.. (part 2)

Cukup lama berputar, memutar-mutar. Titik yang kau sebutkan adanya di luar kota, di daerah yang untungnya aku tidak hapal.

Sesekali tanganmu menunjuk-nunjuk saat sampai di simpangan, perempatan ataupun pertigaan. Kubiarkan saja, begitu. Wangimu yang menguar, menelusup pelan ke indera penciumanku, sungguh membakar naluri, otak, dan hasrat.

Sungguh pikiran gila. Pasti peracik wangi yang kau pakai tahu persis lapisan-lapisan aroma yang bisa merangsang semua saraf di sekujur tubuh bekerja.
Untungnya, sekali lagi. Masih ada tersisa konsentrasi untuk mengarahkan roda tetap pada jalurnya. Kali ini, tiga puluh lima menit, terasa lama. Atau maunya lama.

Perjalanan berujung di sebuah rumah berlantai dua, lampu-lampu di dalam maupun di sekelilingnya, belum menyala. Gelap. Rumah terdekat sekitar dua ratusan meter saja. Tempat tinggal ini, seperti menyendiri saja.

Pelan kau, turun. Melangkah ke halaman yang tak seberapa luas. Meninggalkanku sendiri di atas motor, terdiam dan terpana saja.
Tak lama, pelan kau membuka pintu, dengan tangan kiri. Baru saja gagangnya mau diputar, kau berbalik. Mendekatiku, tersenyum , lagi.

Akupun teringat akan tanya tanpa jawab, waktu di tengah perjalanan tadi, dan kuulangi lagi

“Namamu, siapa ?..” Kali ini aku menjulurkan tangan, mengajak jabat tangan.
Kau diam saja, malah mendekati wajahku. Malah tiba-tiba ada rasa hangat sekilas di pipiku. Ajaib sekali. Dan jawab yang kunanti, tak jua keluar dari mulutmu. Malah ada ajakan.

“Masuk .. ?” Tawarmu, renyah sambil melangkah, lalu membuka pintu..


Halo.. (part 3)

……
Tapi, terimakasih. Malaikat lagi berjaya malam itu. Kuanggukan saja kepala, yang masih saja bertolakbelakang dengan inginnya benak. Kaki yang sepasang inipun sebetulnya ingin ikut melangkah masuk, menyetujui ajakan singkat, yang kuramalkan bakal berbuntut panjang, jika saja seluruh inderaku kompak setuju.

Tapi sekali lagi, kali ini iblis kalah total. Motor pun berbalik, dan berjalan sedikit berat. Malah terpikir untuk berbalik lagi. Buru-buru membatalkan penolakan atas ajakan tadi. Lagi-lagi dingin malam yang mulai pelan terasa, menetapkan arah roda, untuk terus saja.

**
“Halo..” Sebuah kata yang tak bosan, pagi ini, renyah seperti biasa. Tapi ada yang tak biasa, ada sesuatu yang baru. Apa aku saja yang baru menyadari, kalau ada sekilas lesung pipit, melekuk di pipi kirimu. Membuatmu senyummu jadi terlihat makin sempurna, walau setelah satu kata itu, tetap saja tertunduk, lalu bergegas keluar pintu lift, dan melangkah cepat ke lorong di depan.

Warna pastel itupun, tumben berganti warna gelap lagi. Dark choco, dan samar hidungku menangkap aroma coklat pula. Perasaan yang aneh, cenderung menipu, memang.

Seperti tak pernah terjadi apa-apa, seperti tak pernah dekat denganku, walau hanya untuk kurang dari satu jam. Seakan hangat yang diciptakannya sekilas malam kemarin itu tak pernah ada. Belum sempat berpikir lebih. Kotak yang seakan berkilat perak itu , bergerak lagi.

Waktu bergerak cepat, tiba-tiba jam delapan malam, berharap bersua lagi. Tapi harapan kali ini belum beruntung. Harus melaju sendirian rupanya malam ini.

***
“Halo..” Sapaan itu, nadanya sedikit beda, sedikit riang, sedikit .. apa kata yang pas untuk menggambarkan satu derajat di atas renyah. Seperti itulah. Sapaan yang tidak biasanya, setelah dua minggu telingaku tak dimanja oleh rutinitas pagi yang menyenangkan itu. Dua minggu menghabiskan waktu di luar kota, tugas yang tetap saja mengharuskan terperangkap dalam gedung berpendingin terlalu sempurna, dan semakin terasa dingin rasanya tanpa ada sapaan itu.

Tapi hari ini, satu kata itu hadir lagi. Cepat aku menoleh. Kali ini, ada yang aneh lagi, mataku yang merasakan ada yang aneh. Rambutnya itu sedikit mengganggu, bukan mengganggu, tapi sedikit aneh saja..

Tidak ada rambut sebahu, tapi kali ini rambut yang lembut melewati bahu. Dua minggu cukup rupanya untuk bereksprimen dengan penumbuh rambut super ! Sungguh pikiran gila. Sebuah logika modernisasi menamparku, kalau benda yang bernama wig bisa merubah segalanya dalam sekejap.

Sekilas mataku terparkir pada arah titik dimana matamu yang menunduk, dan ya ampun. Kali ini wedge yang biasanya membalut betis indah itu, sungguh berani berganti dengan high heels, lima senti kukira-kira. Pantas saja begitu melangkah masuk pintu lift, tinggi kita bisa sejajar.

Kali ini pun, cuma sepenggal kata itu. Membuatku merasa, kejadian mengantar seorang gadis dengan pelukan lembut sampai ke muka pintu rumahnya, beberapa waktu yang lalu, hanyalah mimpi. Penasaran dibuatnya.



Halo.. (part 4)


“Halo..” Sapaan itu, nadanya sedikit beda, sedikit riang, sedikit .. apa kata yang pas untuk menggambarkan satu derajat di atas renyah. Seperti itulah. Sapaan yang tidak biasanya, setelah dua minggu telingaku tak dimanja oleh rutinitas pagi yang menyenangkan itu. Dua minggu menghabiskan waktu di luar kota, tugas yang tetap saja mengharuskan terperangkap dalam gedung berpendingin terlalu sempurna, dan semakin terasa dingin rasanya tanpa ada sapaan itu.

Tapi hari ini, satu kata itu hadir lagi. Cepat aku menoleh. Kali ini, ada yang aneh lagi, mataku yang merasakan ada yang aneh. Rambutnya itu sedikit mengganggu, bukan mengganggu, tapi sedikit aneh saja..

Tidak ada rambut sebahu, tapi kali ini rambut yang lembut melewati bahu. Dua minggu cukup rupanya untuk bereksprimen dengan penumbuh rambut super !

Sungguh pikiran gila. Sebuah logika modernisasi menamparku, kalau benda yang bernama wig bisa merubah segalanya dalam sekejap.

Sekilas mataku terparkir pada arah titik dimana matamu yang menunduk, dan ya ampun. Kali ini wedge yang biasanyamembalut betis indah itu, sungguh berani berganti dengan high heel, lima senti kukira-kira. Pantas saja begitu melangkah masuk pintu lift, tinggi kita bisa sejajar.

Kali ini pun, cuma sepenggal kata itu. Membuatku merasa, kejadian mengantar seorang gadis dengan pelukan lembut sampai ke muka pintu rumahnya, beberapa waktu yang lalu, hanyalah mimpi. Penasaran dibuatnya.
___

Halo.. (part 5)

Berusaha mengingat-ingat, berbekal rasa penasaran, dan sedikit memori tentang perjalanan malam hari yang hangat itu. Motorku bernapak tilas,sempat beberapa kali menduga-duga, dan bertanya sana sini. Malah sempat ragu untuk kembali saja, dan meyakini bahwa kejadian beberapa minggu yang lalu, benar-benar mimpi.

Namun, sekali ini keberuntungan sedang berpihak. Motorku akhirnya terparkir di depan rumahmu, tak salah lagi, hanya satu rumah berlantai dua di sekitar sini, dengan gagang pintu yang jelas terekam kuat. Jelas karena ajakanmu saat mengajak masuk itu, memaksa mataku malah terfokus pada gagang pintu, sungguh pelarian yang aneh.

Tapi rumah itu sepi sekali, halaman tak berpagar yang tak seberapa luas itu, hijau rapi oleh rumput yang terpangkas berkala sepertinya, Ficus benyamina disudut kanan merajai dan meneduhkan dengan lebat daunnya.

Kombinasi fasad rumah itu pun seakan akrab saja, kombinasi warna pastel dan sentuhan warna gelap di beberapa sisi, menjadikannya terasa unik.
Ingin rasanya berjalan ke depan pintu, mengetuk, lalu mengucapkan kata “Halo..”

Tapi, kuputuskan untuk tak jadi.

*****
Pagi ini beda lagi, tak ada sepotong kata yang biasa menyapa, mata setengah sayu yang tertunduk sampai lantai delapan. Menimbulkan rasa yang hilang, sekilas rindu membumbung di penjuru lift. Ada yang terasa menguap di hati.

Sial sekali, tak bertemu, tak tahu nama, tak tahu apa-apa.
Semuanya lalu terbayar setelah lewat delapan malam. Sosok yang kuhapal betul itu, berdiri menoleh ke arah kanan jalan. Pakai sepatu flat, dan lagi-lagi rambutnya bisa saja membuatku terkejut, kali ini potongan pendek. Terpapas rapi, nyaris terlihat seperti sosok polwan, tak acuh namun tegas mempesona.

Pengalaman membuatku berani saja, menawarkan diri mengantarnya pulang, lagi.  Walau menatapku sedikit bingung, tapi akhirnya mengangguk setuju. Wangi Pierre Cardin terhirup tipis, saat kuberikan helm padamu.

Tak banyak kata, motor melaju saja ke tujuan, kau pun diam, tapi tanpa pelukan di pinggang. Harapan yang terlampau berlebihan, padahal malaikat sudah siap saja mengalah malam ini.

Sesampainya di depan rumahmu, menyisakan heran. Cuma mengucapkan terimakasih, lalu masuk ke rumah. Aku menunggu, sedikit ge er, kalau saja ajakan masuk itu muncul lagi. Pintu itu tak terbuka lagi, tertutup, senyap. Mau tak mau, malam harus dilalui dengan tanda tanya lagi, bertumpuk-tumpuk.

Apalagi, bertanya nama pun tak sempat.



halo.. (part 6)

Kali ini kuputuskan mengetuk pintu itu,hari minggu pagi, sendirian. Single fighter, Cuma membawa satu tekat. Menanyakan namamu. Itu saja, kalaupun ada bertambah ujung yang menyenangkan, tak mengapa.

Satu menit, ada langkah yang menuju pintu. Hatiku berdebar, tak sabar.
Gagang pintu itu memutar, tak lama raut wajah yang kuhapal itu, muncul di hadapanku.

“Halo..” Sepotong kata sakti itu, keluar dari mulutku sekarang, sedikit tercekat. Rambut sebahu yang sedikit basah, baru mandi tampaknya, Santai dengan tanktop dan celana pendek, dianya yang santai, akunya yang kebat kebit.

“Eh, kamu. Silakan masuk..” Mempersilahkan ku duduk, di sofa merah gelap. Lalu pamit sebentar kedalam.

Dua menit menunggu, gagang pintu yang memutar pelan, menyentak damaiku, mengganggu bayangan-bayangan kejadian selanjutnya. Merasa tak enak, bagaimana kalau itu kekasihnya, atau malah suaminya ?

****
Pintu pun terkuak, dan kali ini aku pasti lagi di alam lain. Atau obsesi akan sebuah nama seorang wanita, sudah membuatku gila. Mata sayu itu, rambutnya juga terlihat basah, tapi oleh keringat tampaknya, dan rambut panjangnya, melewati bahu, dengan training pack. Masuk dan memandangku sambil tersenyum, menyapaku riang, lalu lewat begitu saja. Masuk ke bagian dalam rumah. Meninggalkanku saja, tak peduli.

Baru saja aku memutuskan untuk beranjak pergi, menghilangkan bingung yang semakin menanjak menjadi gila. Sebuah langkah menghentikan niatku, aku menoleh cepat. Sebuah senyum berhias lesung pipit, yang samar kuingat, berdiri disana. Logikaku sudah tak bisa lagi mencerna hari yang kurasa salah untuk bertamu di rumah yang salah.

Pintu kubuka tergesa, dan di teras aku nyaris bertabrakan dengan satu sosok lagi. Yang baru turun dari motor hitam yang terparkir tepat di samping motorku, tangannya sigap membuka helm full face-nya. Lagi-lagi wajah itu yang jelas ada disitu, wajah dengan mata setengah sayu, tapi dengan potongan rambut pendek.

Aku sudah tak peduli, tak peduli dengan nama, dengan niat untuk mengenal lebih jauh sosok yang diam-diam kukagumi. Yang ada malah rasa takut.
Baru saja aku memasang helm tergesa, membalikkan arah motor, menyalakan starter. Sebuah suara memanggilku.
……


Halo.. (part -end)


“Tunggu..” Dan tunggu, itu bukan satu suara, renyah tapi terasa lebih.
Walau rasa kaget, takut, bingung dan tak peduli sudah membaur tak karuan, mengacak-acak otakku. Kupaksakan untuk menoleh sekali lagi.

Mata setengah sayu itu, tak main-main. Menatapku di teras.
Bukan cuma sepasang, tapi empat pasang.

Satu berambut sebahu,
Satu juga begitu tapi berhias lesung pipit.
Satu berambut melewati bahu.
Satunya lagi berambut pendek.
Setengah menahan napas. Kuberanikan diri memberikan sapa

“Halo…” dengan sedikit bergetar tak karuan.

Pada mereka, ya pada mereka.
Lalu berbalik lagi,untuk menanyakan namanya

ah bukan,
menanyakan nama-nama mereka,
semoga saja tak sama..

Komentar

Postingan populer dari blog ini

ada apa hari ini

 rencananya adalah: hunting komik lagi di lapak depan jalan nyuci sepeda bikin materi untuk ngajar besok, artinya kudu baca ulang lagi materinya belajar swot, skoringnya masih belum ngerti, hedeh.. mudahan mahasiswaku ga baca blog ini haha sepedaan bentar sore-sore.. dan sepagi ini, saya kembali, iya kembalai, men- deactive akun-akun sosmed saya, dan lagi-lagi, saya tak tahu sampai kapan itu berlangsung, toh siapa juga yang nyari saya kan haha kecuali blog ini, tampaknya tetap dipertahankan aktif untuk menumpahkan kisah-kisah tak jelas sepanjang waktunya.. tadinya kepikiran untuk menghapus akun whatsapp  untuk sementara waktu, tapi tak bisa karena ada terkait kerjaan di kantor, walau akhir-akhir ini tak begitu ada kerjaan juga, jadi ya mungkin ditengok sesekali saja. itu saja dulu, eh apa saya perlu.. hedeuh apa tadi lupa

tentang 2021

 sebuah refleksi akan tahun 2021 yang awut-awutan, bagaimana harus memulainya ya, toh saya sebenarnya tak bisa juga menceritakannya #lah 😅 lagian rasanya terlalu dini ya untuk bikin refleksi, eh benarkah demikian? yang jelas saya punya beberapa kawan baru, punya pengalaman baru, menemukan hal-hal baru, mendapatkan apa yang saya inginkan walau terlihat sederhana, soal detilnya. nah itulah susah menceritkannya.. oke salahsatunya adalah akhirnya saya bisa menjejakkan kaki ke satu kabupaten di provinsi ini yang belum pernah saya datangi: Kotabaru.   soal lain-lainnya rasanya kurang lebih sama, masih aja susah ngomong di depan orang banyak, saya harus lebih banyak belajar lagi, terutama: belajar meminimalisir rasa malas..

#54 tentang pikiran, keluhan dan ikhlas melepas

.. kemarin, saya membuka-buka arsip disertasi saya, membaca sekilas beberapa bagiannya, dan memutuskan untuk malu.  Saya makin yakin bahwa hanya keberuntungan saja yang bikin saya bisa menyelesaikan studi empat tahun yang lalu itu. Bahkan bagian referensi pun, benang merahnya kurang kuat, ada beberapa bagian yang bikin kening saya mengkerut sambili berpikir: dulu saya ngapain dan gimana saja mikirnya haha.  walaupun kalau mengingat prosesnya yang begitu ... ya tujuh tahun yang mungkin benar-benar seperti roller coaster  paling buruk sedunia.  Sudahlah, mengenang hal-hal yang kurang baik seringkali lebih detil daripada mengenang hal-hal bagus. saya juga mikir, kemarin diam-diam hidup saya juga banyak dilingkari keluhan, sana-sini, padahal penyebabnya ya diri sendiri juga, yang keras kepapa dan sering menganggap diri sendiri yang paling benar.  Padahal ya, saya selalu bilang sama kawan-kawan, seringkali dan sebagian besar masalah hidup seseorang itu ya karena dirinya sendiri.  Tak perlu