Langsung ke konten utama

Hari ke 17 : Jum'at Kemarin & Sekarang Rindu

Hari jum'at kemarin tak ada sesuatu yang terlalu istimewa, selain jum'atan yang tak kebagian tempat sehingga harus sholat di atas batapress di teras masjid, untung bawa sajadah, walau dengan senang hati dibagi dua dengan jamaah di samping.  Pulangnya dapet nasi bungkus dari entah siapa yang sudah dua jumat ini berbagi ratusan bungkus nasi, ngiri saya, sungguh.

Malamnya gerimis, akhirnya saya memutuskan menu yang belum pernah saya coba, karena berdasarkan pengalaman dulu, mesen bakmi goreng Jawa itu adalah ujian kesabaran yang luar biasa, nunggunya lama.  Akhirnya saya mesen bakmi godhog saja.  Ternyata, dicampur sama bihun gitu, enak sih, buktinya habis, yaiyalah, laper..

Dan sepagi ini, saya baru inget lagi, kalo si bungsu usianya tepat tiga tahun hari ini.  Saya jadi rindu euy, pengen pulang.  Pengen banget.  Saya tak pernah jauh darinya saat ulang tahunnya. 

Saya rasanya tak ingin ngapa-ngapain hari ini, selain beranjak mencari kado buatnya.  Met ultah nak, maaf hadiahnya sedikit telat..
.
.
.
.

Komentar

  1. Selamat ulang tahun, Anaknya Om Warm. Semoga selalu sehat dan berbahagia :)

    BalasHapus
  2. Halo Mba, aku Trissa ingin menawarkan kerja sama content placement, boleh aku minta alamat email/kontak yang bisa dihubungi? Terima kasih :)

    BalasHapus
  3. Selamat ulang tahun yang ketiga buat anaknya, Om.
    Semoga segala sesuatu tentangnya senantiasa menjadi doa baik buat om sekeluarga.

    BalasHapus
  4. Selamat ulang tahun buat anaknya, Om... barakah dan bahagia selalu bersama keluarga... :)

    BalasHapus
  5. Selamat ulang tahun anaknya Mas Rd. #edisitelatbanget

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

ada apa hari ini

 rencananya adalah: hunting komik lagi di lapak depan jalan nyuci sepeda bikin materi untuk ngajar besok, artinya kudu baca ulang lagi materinya belajar swot, skoringnya masih belum ngerti, hedeh.. mudahan mahasiswaku ga baca blog ini haha sepedaan bentar sore-sore.. dan sepagi ini, saya kembali, iya kembalai, men- deactive akun-akun sosmed saya, dan lagi-lagi, saya tak tahu sampai kapan itu berlangsung, toh siapa juga yang nyari saya kan haha kecuali blog ini, tampaknya tetap dipertahankan aktif untuk menumpahkan kisah-kisah tak jelas sepanjang waktunya.. tadinya kepikiran untuk menghapus akun whatsapp  untuk sementara waktu, tapi tak bisa karena ada terkait kerjaan di kantor, walau akhir-akhir ini tak begitu ada kerjaan juga, jadi ya mungkin ditengok sesekali saja. itu saja dulu, eh apa saya perlu.. hedeuh apa tadi lupa

tentang 2021

 sebuah refleksi akan tahun 2021 yang awut-awutan, bagaimana harus memulainya ya, toh saya sebenarnya tak bisa juga menceritakannya #lah 😅 lagian rasanya terlalu dini ya untuk bikin refleksi, eh benarkah demikian? yang jelas saya punya beberapa kawan baru, punya pengalaman baru, menemukan hal-hal baru, mendapatkan apa yang saya inginkan walau terlihat sederhana, soal detilnya. nah itulah susah menceritkannya.. oke salahsatunya adalah akhirnya saya bisa menjejakkan kaki ke satu kabupaten di provinsi ini yang belum pernah saya datangi: Kotabaru.   soal lain-lainnya rasanya kurang lebih sama, masih aja susah ngomong di depan orang banyak, saya harus lebih banyak belajar lagi, terutama: belajar meminimalisir rasa malas..

#54 tentang pikiran, keluhan dan ikhlas melepas

.. kemarin, saya membuka-buka arsip disertasi saya, membaca sekilas beberapa bagiannya, dan memutuskan untuk malu.  Saya makin yakin bahwa hanya keberuntungan saja yang bikin saya bisa menyelesaikan studi empat tahun yang lalu itu. Bahkan bagian referensi pun, benang merahnya kurang kuat, ada beberapa bagian yang bikin kening saya mengkerut sambili berpikir: dulu saya ngapain dan gimana saja mikirnya haha.  walaupun kalau mengingat prosesnya yang begitu ... ya tujuh tahun yang mungkin benar-benar seperti roller coaster  paling buruk sedunia.  Sudahlah, mengenang hal-hal yang kurang baik seringkali lebih detil daripada mengenang hal-hal bagus. saya juga mikir, kemarin diam-diam hidup saya juga banyak dilingkari keluhan, sana-sini, padahal penyebabnya ya diri sendiri juga, yang keras kepapa dan sering menganggap diri sendiri yang paling benar.  Padahal ya, saya selalu bilang sama kawan-kawan, seringkali dan sebagian besar masalah hidup seseorang itu ya karena dirinya sendiri.  Tak perlu