Senin, 19 Desember 2016

sebuah perjalanan panjang bernama hidup


hari rabu kemarin, setelah memantapkan hati, akhirnya saya memutuskan untuk menggunakan motor honda legenda saya ke Bogor, dari Jogja, demi janjian sama honey yang kebetulan lagi ada tugas di kota hujan itu. Tapi kali ini ceritanya bukan tentang perjalanan naik motor saya yang terpanjang sampai saat ini. Mungkin nanti saya ceritakan terpisah. Yang jelas perjalanan sepanjang 500 km lebih dan nyaris sehari semalam itu perlu waktu sehari penuh untuk recovery body hehe

Jadi, selama di Bogor, saya menginap di rumah sepupu, sepupunya honey tepatnya.  Kebetulan, salah seorang sepupunya yang dulunya tinggal disitu juga, baru-baru saja berpulang menghadap Penciptanya, innalillahi .. :(

Yang bikin saya sedih juga, sepupu yang wafat itu, seringkali menjadi teman ngobrol saya saat berkunjung dan menginap disini.  Yang bikin sedih lagi, dia meninggalkan anak-anaknya yang masih kecil.  Yang makin bikin saya sedih, anak-anaknya jadi yatim piatu, karena beberapa tahun yang lalu, ibunya sudah duluan menemui sang Khalik :(

Barusan, saya melihat-lihat koleksi foto-foto lama punya almarhum.  Sambil hening sendiri, melihat jejak-jejaknya dalam beberapa lembar gambar, sedari dia kecil, sekolah, kuliah, sampai bekerja dan menikah..

Siapa yang pernah menduga akhir perjalanan hidupnya.  Sehari sebelum meninggalkan dunia ini, kata saudara-saudaranya, dia masih sempet main bola di halaman rumah dengan anaknya.  Sampai kemudian mendadak...

Saya juga masih ingat, sekitar sebulan yang lalu, saat mengantar dia ke rumah sakit untuk cuci darah, masih keinget gayanya yang santai, seakan-akan tak terjadi apa-apa, padahal saya tahu, saat itu untuk sekedar ngobrol pun sudah tidak bisa lama-lama seperti dulu lagi..

Tapi saya selalu berkeyakinan, orang yang baik selalu dirindukan sang Penciptanya, sehingga dipanggil lebih cepat untuk menghadap-Nya.

Saya sedari dulu, tak pernah berani posting tentang kematian, tentang orang-orang baik yang meninggalkan dunia ini dengan tenang.  Mungkin saya takut.  Lebih-lebih menengok jejak rekam perjalanan hidup saya yang banyak bolong  dan rapor merahnya.  Membayangkannya pun saya tak pernah berani. :(

Padahal, dalam setiap perjalanan berangkat, pasti akan ada saatnya pulang.  Hal itu yang sering terlupakan, sering sekali dilupakan..

2 komentar:

Felyina mengatakan...

Iya, kehilangan tiba-tiba seorang kerabat dekat memang bikin shock dan sedih mendalam, ya. Semoga arwah sepupunya diterima di sisi Allah. Keluarga yang ditinggalkan mendapatkan ketabahan dan kekuatan. Amen

Rd mengatakan...

Amin. makasih ya

Posting Komentar

tentang rusuh

jadinya, akibat soal pemilu yang tak berkesudahan ini, karena tentu saja pihak yang tak mau kalah, keras kepala dan super nyebelin, ditambah...

 
;