Langsung ke konten utama

Saya (mantan) Slanker

slank itu slengean, semau-maunya, apa adanya,
tapi punya sikap

Hari ini baca update di beritagar.id tentang Slank yang sudah memasuki usia tiga dekade lebih. Saya jadi teringat masa saya waktu awal mengenal Slank, tepat saat saya baru masuk asrama di awal fase SLTA di tahun 1990, eh maaf ada yang belum lahir saat itu? Hehehe. 

Lagu-lagu di album pertama Slank waktu itu menurut saya keren semuanya, ada satu orang yang punya kasetnya di asrama, eh maaf ada yang nggak kenal benda bernama kaset?  Kalian lahir tahun berapa sih *mulai sewot*.  Di sampul album itu ada kuis tebak-tebakan nama personilnya berdasarkan foto-foto mereka.  Saya pun mengirimkan jawaban asal-asalan, dan ternyata jawaban saya salah.  Tapi ternyata tetap saja saya mendapatkan hadiah yang bukan main-main: sticker logo Slank, kartu anggota slanker apa ya kalo ga salah dan poster gede Slank seperti di bawah ini:


Beberapa tahun kemudian, Slank juga menerbitkan buletin yang rutin saya terima, saya juga sempat satu kali memperbaharui kartu anggota SFC (Slank Fans Club).

Sebenarnya, saya rasanya tak pernah membeli albumnya juga sih, karena begitu kerenya waktu dulu haha.  Mendengar lagu-lagu mereka cuma dari kaset punya kawan, dan belakangan sejak album ketiga (PISS) adik saya yang kedua, yang rajin membeli albumnya.  Saya dan adik-adik saya semuanya penggemar lagu-lagunya Slank memang. 

Saya sendiri justru baru bisa beli album Slank saat kuliah tahun ke empat, yang keluar justru saat formasi idealnya bubar jalan.  Saya beli album Lagi Sedih yang mendapatkan bonus kantong pembungkus kaset dari bahan semacam karung, sesaat sebelum saya melakukan perjalanan jauh ke pulau Jawa, hingga akhirnya kaset itu saya jadikan hadiah untuk pacar saya yang sedang kuliah di Bogor waktu itu *malah nostalgila lagi.  

Terakhir, saya membeli album Mati Hati Reformasi di tahun 1998, sebelum akhirnya memutuskan untuk tak lagi membeli album-albumnya, karena sudah beda sekali dengan Slank formasi 13 yang masih terdiri bimbim, kaka, pay, bongky & indra Q.  Saya tak lagi menikmati lagu-lagu mereka, yang saya rasa sungguh menjadi aneh dan tak lagi nyaman untuk didengarkan.

Mungkin, saat itu saya memutuskan untuk tak lagi jadi Slanker *halagh*  Entahlah, saya nyatanya masih sesekali  mendengarkan lagu-lagu mereka ~seperti saat sekarang ini.  Hanya saja saya paling mendengarkan playlist mereka yang berasal dari album pertama sampai yang ke enam saja.  Saya masih nggak bisa move on dari Slank formasi 13 hehehe.

Ohiya, awal tampil di televisi dulu, di TVRI lah tentu, justru lagu Memang yang benar-bener mempunyai ciri khas Slank banget.  Yang saya inget mereka tampil dengan tampilan yang tak biasa: celana jins sobek-sobek, gondrong & rada-rada berantakan.  Ujung-ujungnya video klip mereka dicekal dan tak boleh tayang lagi.  Coba kurang kerjaan sekali kan yang nyekal vidklip gitu dulu.  Sampai akhirnya muncul lagi videoklip ketiga mereka yang berjudul Maaf. Saya sampai sekarang masih penasaran dengan vidklip Memang & Suit suit He he yang masih belum ditemukan di youtube.

Gara-gara Slank juga, salah satu tempat yang masuk dalam daftar tempat yang ingin saya kunjungi sedari dulu ~selain Bandar Lampung, adalah gang Potlot.  Saya menyesal jadinya kemarin waktu singgah di ibukota tak sempat menyambangi markas mereka.  

Seumur hidup saya, nyatanya baru dua kali nonton mereka secara live, dua-duanya dalam acara Soundrenaline.  Pertama pada tahun 2006 di Banjarbaru saat mereka jadi penutup rangkaian acara, dan yang kedua adalah pada tahun 2013 di Jogja, saat mereka semacam mengadakan pertunjukan reuni, Pay & Indra Q bergabung dalam beberapa lagu, terkecuali Bongky yang entahlah tak pernah kelihatan lagi.

Begitulah, dan mungkin suatu saat saya akan posting kenangan-kenangan saya dengan beberapa lagu-lagunya Slank.  Apa besok saja ya? #lah
.
.
.

*gambar poster di atas di ambil dari sini.
*quotes di atas ada di album Slank

Komentar

  1. Dari sini bisa kelihatan ya umurnya om...

    BalasHapus
  2. Haha dari mana2 jg keliatan kok, ck

    BalasHapus
  3. Setuju mas, buat saya lagu-lagu Slank terbaik itu waktu masih ada pianonya dan waktu mereka masih ngedrugs hehehe... Kayak kalo Dewa masa terbaik ya pas masih ada Ari Lasso (atau setidaknya pas Once di album Bintang Lima).

    BalasHapus
  4. ini maksudnya formasi 13 itu apa ya... kok nggak paham. kan pasti bukan berarti "formasi ketika anggotanya berjumlah 13 orang" kan? (soalnya ini ngomongin Slank, bukan boiben Korya)

    BalasHapus
    Balasan
    1. jadi ceritanya Slank itu beberapa kali ganti formasi, bongkar pasang pemain begitulah, menurut saya yang paling keren ya formasi yang ke 13 itulah, bisa dimengerti penjelasan saya ini? XD

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

ada apa hari ini

 rencananya adalah: hunting komik lagi di lapak depan jalan nyuci sepeda bikin materi untuk ngajar besok, artinya kudu baca ulang lagi materinya belajar swot, skoringnya masih belum ngerti, hedeh.. mudahan mahasiswaku ga baca blog ini haha sepedaan bentar sore-sore.. dan sepagi ini, saya kembali, iya kembalai, men- deactive akun-akun sosmed saya, dan lagi-lagi, saya tak tahu sampai kapan itu berlangsung, toh siapa juga yang nyari saya kan haha kecuali blog ini, tampaknya tetap dipertahankan aktif untuk menumpahkan kisah-kisah tak jelas sepanjang waktunya.. tadinya kepikiran untuk menghapus akun whatsapp  untuk sementara waktu, tapi tak bisa karena ada terkait kerjaan di kantor, walau akhir-akhir ini tak begitu ada kerjaan juga, jadi ya mungkin ditengok sesekali saja. itu saja dulu, eh apa saya perlu.. hedeuh apa tadi lupa

tentang 2021

 sebuah refleksi akan tahun 2021 yang awut-awutan, bagaimana harus memulainya ya, toh saya sebenarnya tak bisa juga menceritakannya #lah 😅 lagian rasanya terlalu dini ya untuk bikin refleksi, eh benarkah demikian? yang jelas saya punya beberapa kawan baru, punya pengalaman baru, menemukan hal-hal baru, mendapatkan apa yang saya inginkan walau terlihat sederhana, soal detilnya. nah itulah susah menceritkannya.. oke salahsatunya adalah akhirnya saya bisa menjejakkan kaki ke satu kabupaten di provinsi ini yang belum pernah saya datangi: Kotabaru.   soal lain-lainnya rasanya kurang lebih sama, masih aja susah ngomong di depan orang banyak, saya harus lebih banyak belajar lagi, terutama: belajar meminimalisir rasa malas..