Langsung ke konten utama

41

saat itu, malam menjelang sepuluh.   Ruas pertigaan yang sepi, ragu-ragu, akhirnya memutuskan untuk tak singgah, cuma memandang jalan yang terlihat tanpa ujung.



Rasanya baru dua tahun berjalan.  Menemukannya.  Sudah berapa kali dipaksa akrab dengan jarak.  Sungguh klasik dan memuakkan.

Kota kecil ini, terasa semakin tak akrab.  Entahlah dirinya di kota sana.  Semoga tetap damai dalam hujan.

Monolog-monolog malam itu seperti tak berkesudahan, sampai akhirnya dia lelah sendiri, tanpa lagu, tanpa mimpi.

.
.

42.
.

Tahun 1994 adalah, masa dimana pak pos sangat ditunggu.  Kadang mengumpulkan niat untuk menelpon ke Cikuray di seberang sana, demi obrolan ringan, demi mendengar suaranya saja, yang sering tak sampai limabelas menit.

Entah apa, entah bagaimana, kata menunggu adalah biasa dan menjadi kebiasaan.  Entahlah .. rindu hanyalah kata sederhana, yang berusaha dinikmati

Komentar

  1. baca ini kok jadi sedih ya om?

    BalasHapus
    Balasan
    1. itu sambungan cerita dari sana kok hehe
      http://www.auk.web.id/2015/01/the-stories-continues.html

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

ada apa hari ini

 rencananya adalah: hunting komik lagi di lapak depan jalan nyuci sepeda bikin materi untuk ngajar besok, artinya kudu baca ulang lagi materinya belajar swot, skoringnya masih belum ngerti, hedeh.. mudahan mahasiswaku ga baca blog ini haha sepedaan bentar sore-sore.. dan sepagi ini, saya kembali, iya kembalai, men- deactive akun-akun sosmed saya, dan lagi-lagi, saya tak tahu sampai kapan itu berlangsung, toh siapa juga yang nyari saya kan haha kecuali blog ini, tampaknya tetap dipertahankan aktif untuk menumpahkan kisah-kisah tak jelas sepanjang waktunya.. tadinya kepikiran untuk menghapus akun whatsapp  untuk sementara waktu, tapi tak bisa karena ada terkait kerjaan di kantor, walau akhir-akhir ini tak begitu ada kerjaan juga, jadi ya mungkin ditengok sesekali saja. itu saja dulu, eh apa saya perlu.. hedeuh apa tadi lupa

tentang (pamer) jam tangan

 saya sebenarnya termasuk manusia yang jarang sekali pakai jam tangan, dan terakhir saya cuma punya satu jam digital, yang saya beli sebenernya karena ada fitur ngukur SPO2 alias saturasi udara- gara-gara pandemi covid itulah.. itupun Honor band 5i yang termasuk paling murah di kelasnya.. dan ajaibnya, walaupun pas pake jam tangan itu, tetap saja lebih sering ngecek waktu via hape hehe.. dan kalimat itu juga kurang lebih yang saya sampaikan di postingan mb Eno di blognya tentang jam tangan .. trus tau-tau beberapa waktu lalu, dia bilang mau ngirimin saya sesuatu, jauh-jauh hari sih sebelum saya kasih komentar tentang jam tangan itu, trus akibat komen saya itu, mb Eno buka kartu tentang apa yang dia kirimin ke saya itulah yang kemarin paketnya sampai dan isinya langsung saya pakai, dan masih rajin saya pakai sampai nyaris seharian tadi hehe lha saya ga nyangka aja dikasih jam tangan sama temen baru saya itu. makasih banyak lho, smoga saya inget pesannya untuk jangan lagi nengok hape saa