Rabu, 16 Maret 2016

41

saat itu, malam menjelang sepuluh.   Ruas pertigaan yang sepi, ragu-ragu, akhirnya memutuskan untuk tak singgah, cuma memandang jalan yang terlihat tanpa ujung.



Rasanya baru dua tahun berjalan.  Menemukannya.  Sudah berapa kali dipaksa akrab dengan jarak.  Sungguh klasik dan memuakkan.

Kota kecil ini, terasa semakin tak akrab.  Entahlah dirinya di kota sana.  Semoga tetap damai dalam hujan.

Monolog-monolog malam itu seperti tak berkesudahan, sampai akhirnya dia lelah sendiri, tanpa lagu, tanpa mimpi.

.
.

42.
.

Tahun 1994 adalah, masa dimana pak pos sangat ditunggu.  Kadang mengumpulkan niat untuk menelpon ke Cikuray di seberang sana, demi obrolan ringan, demi mendengar suaranya saja, yang sering tak sampai limabelas menit.

Entah apa, entah bagaimana, kata menunggu adalah biasa dan menjadi kebiasaan.  Entahlah .. rindu hanyalah kata sederhana, yang berusaha dinikmati

2 komentar:

shofie syamwiel mengatakan...

baca ini kok jadi sedih ya om?

Rd mengatakan...

itu sambungan cerita dari sana kok hehe
http://www.auk.web.id/2015/01/the-stories-continues.html

Posting Komentar

tentang rusuh

jadinya, akibat soal pemilu yang tak berkesudahan ini, karena tentu saja pihak yang tak mau kalah, keras kepala dan super nyebelin, ditambah...

 
;