Senin, 05 Januari 2015

the stories continues

sambungan serpihan puzzle dari sana ..
.
.




36.
.

..hanya letih kau tinggalkan menanti matahari pagi...

Bukannya pulang, akhir pekan itu diputuskannya untuk mengunjungi rumah gadisnya, untuk yang pertama kali.  Sabtu yang sore, yang hangat, yang cerah yang tiba-tiba sudah di pinggir jalan mencegat angkot berwarna hijau, ke arah luar kota.
Sudah kepalang juga, dari pinggir jalan masih harus masuk lagi beberapa ratus meter, setelah menimbang-nimbang, ditambah ketidaksabaran untuk bertemu.  Senyuman hormat pun di sampaikan pada mas-mas tukang ojek yang mangkal di depan jalan itu.

Motor melaju dengan dia di boncengan, terus sampai tak terasa sampai di rumah yang depannya hijau dengan jeruk bali dan rambutan di sisinya.

“assalamualaikum..” mengetuk ragu.
“waalaikum salam” ada sahutan, tapi bukan suara yang diharapkannya.
“maaf, mau nyari siapa ya?”  Seorang ibu setengah baya membukakan pintu, tersenyum padanya.
“makasih bu, tapi..”  dia pun mengutarakan niatnya..
“aduh maaf, punten, si neng nggak jadi pulang, ada kegiatan apa gitu katanya..” 
“oh kalo gitu saya permisi pulang aja, ibu..”
““eh, mangga sok masuk dulu atuh..”
“makasih bu..lain kali saja, assalamualaikum”
“waalaikumsalam..”

Kembali mengayun langkah, kali ini memutuskan berjalan kaki saja, nyaris dua kilometer memang.  Tapi tak apalah.
.
.
37.
.

“Hey, ayo masuk..” Suara yang dikenalnya tiba-tiba riang menariknya dari dunia pikirannya.

“Malah bengong.. “ Dia hanya bisa tersenyum, membalas senyum yang terbit di paras perempuannya.
“Duduk dulu, aku ke dalam dulu, mau minum apa?”
“Apa aja” Jawabnya singkat, lalu duduk di ruang tamu yang tak seberapa luas, hanya dibatasi dengan rak buku dengan ruang tengah.  Tapi terasa nyaman di kursi sofa hijau pupus.

Televisi waktu itu sedang memutar sekilas berita dari pedesaan, negeri ini sedang bagus-bagusnya sepertinya.  Hingga beberapa saat kemudian berganti dengan pemutaran acara musik, cukup menyenangkan.

Entah apa saja obrolan hari itu, random sekali, apapun tak penting rasanya.  Bias dengan orang yang lama dirindukannya.

Siang itu sudah berubah menjadi sore, seakan cepat sekali matahari menggelincir ke arah barat. 


Hanya bersamamu
Semua misteri yang terjadi
Dapat kita lalui
.
.
38.
.
"Aku jadinya lusa berangkat, praktek, sebulan aja kok, sama kayak kamu dulu.  Dekat juga dengan tempatmu praktek dulu.  Jangan lupa kirm-kirim surat ya.  Aku pasti kangen :)"

Selembar surat itu, sudah entah berapa kali dibacanya.  Masih mencari kalimat untuk dituliskan, tapi otaknya lagi buntu.  Selembar kertas hvs sisa laporan praktikum kimia dasar masih polos tergeletak di meja belajarnya.

Tiba-tiba si kurus itu tersenyum sendiri, mengambil mesin tik yang lagi menikmati masa istirahat di lantai di sisi dipan kayu.  Di keremangan kamar tanpa jendela itu, jarinya kemudian mengetikkan kalimat, contekan dari sebuah lagu.. Rasanya itu sudah cukup mewakili apa yang dia rasakan.
.
Melatiku.. apa kabar kamu disana, kuharap engkau s'lalu tertawa
Melatiku.. tenang-tenang saja di sana, pedamkan pedih dan sibukkan diri nikmati hari ..
 
Melatiku, akupun seperti biasanya
b
ersama teman-teman wujudkan mimpi disini ..

Melatiku.. aku baik saja sendirisibuk'kan diri dan slalu menanti kau kembali ..
 
Lupakanlah diriku sementara ..jangan terlalu pikirkan langkahku ..

Lakukan yang kau suka agar kau bahagia, dan percayalah mimpiku ada mimpimu ..

kirim aku bunga ..kasih, getarkan cintaku
kukirim kau lagu tentang isi hatiku
.
.
39.
.
.
Suatu hari, ada kalanya kau meninggalkan seseorang, di lain waktu keadaan akan terbalik saat seseorang itu yang akan meninggalkanmu.  Meninggalkan dan ditinggalkan, dua hal itu sama tidak enaknya.

Seperti hari itu, setahun sebelumnya, gadisnya ditinggalkannya sendirian, I mean you know, alone with him beside her anymore.  And now here they goes..

Juni 1994 waktu itu, daun-daun Acacia mangium di barat aula sekolah mereka sedang berguguran, menguning dan kering tentu saja.  Dedaunan itu pula sesiang itu yang sering mereka tatap, daripada saling menatap mata.  Gadis itu sudah menentukan arahnya, menyeberang ke kota hujan, untuk kembali lagi entah kapan.

Mungkin tak rela sisa waktu pertemuan yang seakan mendadak memunculkan batas waktu itu, dikurangi oleh percakapan tak penting.  Ah dua anak manusia..




"Rentangkan sayapmu janganlah aku kau biarkan melayang
.
.
40
.
.
Waktu itu, kadang harus disesali sesekali.  Supaya belajar, bahwa waktu amatlah berharga, kalimat klasik yang biasanya tak banyak orang mengerti esensinya.

Seperti siang itu, di dalam angkot hijau.  Saat tangannya menyelipkan bungkusan kecil ke telapak tangan gadisnya.

"Apa ini?"
"Selamat ulang tahun ya.."
"Makasih.." Hanya tertunduk begitu saja


Hari itu ulangtahun gadisnya memang, dan besok adalah saatnya, untuk berpisah.  


Tapi sepenggal kenangan, beberapa saat sebelum ditinggalkan, tak pernah hilang dari benaknya.



"Hanya letih kau tinggalkan Menanti matahari pagi
.
.
41
.
.
saat itu..

1 komentar:

Hilma Mirdas mengatakan...

baru tau aku kalau ada blog ini. #nyimak

Posting Komentar

tentang rusuh

jadinya, akibat soal pemilu yang tak berkesudahan ini, karena tentu saja pihak yang tak mau kalah, keras kepala dan super nyebelin, ditambah...

 
;