Langsung ke konten utama

the stories continues

sambungan serpihan puzzle dari sana ..
.
.




36.
.

..hanya letih kau tinggalkan menanti matahari pagi...

Bukannya pulang, akhir pekan itu diputuskannya untuk mengunjungi rumah gadisnya, untuk yang pertama kali.  Sabtu yang sore, yang hangat, yang cerah yang tiba-tiba sudah di pinggir jalan mencegat angkot berwarna hijau, ke arah luar kota.
Sudah kepalang juga, dari pinggir jalan masih harus masuk lagi beberapa ratus meter, setelah menimbang-nimbang, ditambah ketidaksabaran untuk bertemu.  Senyuman hormat pun di sampaikan pada mas-mas tukang ojek yang mangkal di depan jalan itu.

Motor melaju dengan dia di boncengan, terus sampai tak terasa sampai di rumah yang depannya hijau dengan jeruk bali dan rambutan di sisinya.

“assalamualaikum..” mengetuk ragu.
“waalaikum salam” ada sahutan, tapi bukan suara yang diharapkannya.
“maaf, mau nyari siapa ya?”  Seorang ibu setengah baya membukakan pintu, tersenyum padanya.
“makasih bu, tapi..”  dia pun mengutarakan niatnya..
“aduh maaf, punten, si neng nggak jadi pulang, ada kegiatan apa gitu katanya..” 
“oh kalo gitu saya permisi pulang aja, ibu..”
““eh, mangga sok masuk dulu atuh..”
“makasih bu..lain kali saja, assalamualaikum”
“waalaikumsalam..”

Kembali mengayun langkah, kali ini memutuskan berjalan kaki saja, nyaris dua kilometer memang.  Tapi tak apalah.
.
.
37.
.

“Hey, ayo masuk..” Suara yang dikenalnya tiba-tiba riang menariknya dari dunia pikirannya.

“Malah bengong.. “ Dia hanya bisa tersenyum, membalas senyum yang terbit di paras perempuannya.
“Duduk dulu, aku ke dalam dulu, mau minum apa?”
“Apa aja” Jawabnya singkat, lalu duduk di ruang tamu yang tak seberapa luas, hanya dibatasi dengan rak buku dengan ruang tengah.  Tapi terasa nyaman di kursi sofa hijau pupus.

Televisi waktu itu sedang memutar sekilas berita dari pedesaan, negeri ini sedang bagus-bagusnya sepertinya.  Hingga beberapa saat kemudian berganti dengan pemutaran acara musik, cukup menyenangkan.

Entah apa saja obrolan hari itu, random sekali, apapun tak penting rasanya.  Bias dengan orang yang lama dirindukannya.

Siang itu sudah berubah menjadi sore, seakan cepat sekali matahari menggelincir ke arah barat. 


Hanya bersamamu
Semua misteri yang terjadi
Dapat kita lalui
.
.
38.
.
"Aku jadinya lusa berangkat, praktek, sebulan aja kok, sama kayak kamu dulu.  Dekat juga dengan tempatmu praktek dulu.  Jangan lupa kirm-kirim surat ya.  Aku pasti kangen :)"

Selembar surat itu, sudah entah berapa kali dibacanya.  Masih mencari kalimat untuk dituliskan, tapi otaknya lagi buntu.  Selembar kertas hvs sisa laporan praktikum kimia dasar masih polos tergeletak di meja belajarnya.

Tiba-tiba si kurus itu tersenyum sendiri, mengambil mesin tik yang lagi menikmati masa istirahat di lantai di sisi dipan kayu.  Di keremangan kamar tanpa jendela itu, jarinya kemudian mengetikkan kalimat, contekan dari sebuah lagu.. Rasanya itu sudah cukup mewakili apa yang dia rasakan.
.
Melatiku.. apa kabar kamu disana, kuharap engkau s'lalu tertawa
Melatiku.. tenang-tenang saja di sana, pedamkan pedih dan sibukkan diri nikmati hari ..
 
Melatiku, akupun seperti biasanya
b
ersama teman-teman wujudkan mimpi disini ..

Melatiku.. aku baik saja sendirisibuk'kan diri dan slalu menanti kau kembali ..
 
Lupakanlah diriku sementara ..jangan terlalu pikirkan langkahku ..

Lakukan yang kau suka agar kau bahagia, dan percayalah mimpiku ada mimpimu ..

kirim aku bunga ..kasih, getarkan cintaku
kukirim kau lagu tentang isi hatiku
.
.
39.
.
.
Suatu hari, ada kalanya kau meninggalkan seseorang, di lain waktu keadaan akan terbalik saat seseorang itu yang akan meninggalkanmu.  Meninggalkan dan ditinggalkan, dua hal itu sama tidak enaknya.

Seperti hari itu, setahun sebelumnya, gadisnya ditinggalkannya sendirian, I mean you know, alone with him beside her anymore.  And now here they goes..

Juni 1994 waktu itu, daun-daun Acacia mangium di barat aula sekolah mereka sedang berguguran, menguning dan kering tentu saja.  Dedaunan itu pula sesiang itu yang sering mereka tatap, daripada saling menatap mata.  Gadis itu sudah menentukan arahnya, menyeberang ke kota hujan, untuk kembali lagi entah kapan.

Mungkin tak rela sisa waktu pertemuan yang seakan mendadak memunculkan batas waktu itu, dikurangi oleh percakapan tak penting.  Ah dua anak manusia..




"Rentangkan sayapmu janganlah aku kau biarkan melayang
.
.
40
.
.
Waktu itu, kadang harus disesali sesekali.  Supaya belajar, bahwa waktu amatlah berharga, kalimat klasik yang biasanya tak banyak orang mengerti esensinya.

Seperti siang itu, di dalam angkot hijau.  Saat tangannya menyelipkan bungkusan kecil ke telapak tangan gadisnya.

"Apa ini?"
"Selamat ulang tahun ya.."
"Makasih.." Hanya tertunduk begitu saja


Hari itu ulangtahun gadisnya memang, dan besok adalah saatnya, untuk berpisah.  


Tapi sepenggal kenangan, beberapa saat sebelum ditinggalkan, tak pernah hilang dari benaknya.



"Hanya letih kau tinggalkan Menanti matahari pagi
.
.
41
.
.
saat itu..

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

ada apa hari ini

 rencananya adalah: hunting komik lagi di lapak depan jalan nyuci sepeda bikin materi untuk ngajar besok, artinya kudu baca ulang lagi materinya belajar swot, skoringnya masih belum ngerti, hedeh.. mudahan mahasiswaku ga baca blog ini haha sepedaan bentar sore-sore.. dan sepagi ini, saya kembali, iya kembalai, men- deactive akun-akun sosmed saya, dan lagi-lagi, saya tak tahu sampai kapan itu berlangsung, toh siapa juga yang nyari saya kan haha kecuali blog ini, tampaknya tetap dipertahankan aktif untuk menumpahkan kisah-kisah tak jelas sepanjang waktunya.. tadinya kepikiran untuk menghapus akun whatsapp  untuk sementara waktu, tapi tak bisa karena ada terkait kerjaan di kantor, walau akhir-akhir ini tak begitu ada kerjaan juga, jadi ya mungkin ditengok sesekali saja. itu saja dulu, eh apa saya perlu.. hedeuh apa tadi lupa

tentang 2021

 sebuah refleksi akan tahun 2021 yang awut-awutan, bagaimana harus memulainya ya, toh saya sebenarnya tak bisa juga menceritakannya #lah 😅 lagian rasanya terlalu dini ya untuk bikin refleksi, eh benarkah demikian? yang jelas saya punya beberapa kawan baru, punya pengalaman baru, menemukan hal-hal baru, mendapatkan apa yang saya inginkan walau terlihat sederhana, soal detilnya. nah itulah susah menceritkannya.. oke salahsatunya adalah akhirnya saya bisa menjejakkan kaki ke satu kabupaten di provinsi ini yang belum pernah saya datangi: Kotabaru.   soal lain-lainnya rasanya kurang lebih sama, masih aja susah ngomong di depan orang banyak, saya harus lebih banyak belajar lagi, terutama: belajar meminimalisir rasa malas..

#54 tentang pikiran, keluhan dan ikhlas melepas

.. kemarin, saya membuka-buka arsip disertasi saya, membaca sekilas beberapa bagiannya, dan memutuskan untuk malu.  Saya makin yakin bahwa hanya keberuntungan saja yang bikin saya bisa menyelesaikan studi empat tahun yang lalu itu. Bahkan bagian referensi pun, benang merahnya kurang kuat, ada beberapa bagian yang bikin kening saya mengkerut sambili berpikir: dulu saya ngapain dan gimana saja mikirnya haha.  walaupun kalau mengingat prosesnya yang begitu ... ya tujuh tahun yang mungkin benar-benar seperti roller coaster  paling buruk sedunia.  Sudahlah, mengenang hal-hal yang kurang baik seringkali lebih detil daripada mengenang hal-hal bagus. saya juga mikir, kemarin diam-diam hidup saya juga banyak dilingkari keluhan, sana-sini, padahal penyebabnya ya diri sendiri juga, yang keras kepapa dan sering menganggap diri sendiri yang paling benar.  Padahal ya, saya selalu bilang sama kawan-kawan, seringkali dan sebagian besar masalah hidup seseorang itu ya karena dirinya sendiri.  Tak perlu