Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Juni, 2021

konon gara-gara pak Luhut

ini sebenarnya tak ada kaitannya sama sekali dengan pak Luhut yang (kembali) menjadi rame di media sosial.  Saya terus terang tak tahu persisnya, yang saya tahu beliau beberapa kali jadi menteri macem-macem.. Sedangkan kaitannya dengan saya adalah, gara-gara beliau, ujian terbuka disertasi saya dilaksanakan tanpa dihadiri salahsatu promotor/pembimbing saya. Jadi ceritanya, saat hari H, promotor saya berangkat pagi-pagi dari jakarta, karena posisi beliau saat itu adalah pejabat eselon 1 di kementerian.  Kebetulan ujian saya dijadwalkan untuk dilaksanakan pada siang hari. Dikarenakan jadwal penerbangan Jakarta-Jogja sedang penuh, maka dosen saya berangkat via Solo.  Mendarat dengan aman, akan tetapi, di tengah perjalanan Solo-Jogja, eh pak Luhut menelpon beliau-lupa saya persisnya tentang apa pas dosen saya bercerita ulang beberapa saat kemudian-, intinya dosen saya diminta balik ke Jakarta saat itu juga.  Jadi aja, beliau konon di tengah jalan berbelok ke bandara Adisucipto untuk

tentang minggu ini emas

.. jadi, ternyata saya ini masih saja kesusahan menata kalimat tiap kali ngobrol sama orang, sama siapapun. akhirnya maksud yang ingin saya sampaikan seringkali gagal, seringkali orang lain memaknainya berbeda dengan apa yang sebenarnya ada di otak dan pikiran saya. menyusahkan? ojelas tentu saja. sangat menyusahkan. saya seringkali berkata kalau komunikasinya saya kurang bagus, lebih tepatnya cara berkomunikasi saya teramat sangat jelek.  seringkali salah memilih kata-kata dan kalimat yang seharusnya bisa mewakili apa yang saya rasakan. ajaibnya, terkadang ada orang yang bisa mengerti apa yang saya maksud dan inginkan, tanpa perlu banyak kata dan kalimat, tapi itu langka, sangat jarang sekali bertemu orang yang seperti itu.  sekalinya bertemu pun, waktu dan tempatnya juga teramat rare. tapi, tentu saja saya selalu berusaha memperbaikinya... hmm.. ini kalimat yang salah, saya seringkali gagal mempelajari kesalahan-kesalahan saya, dan gagal itu tentu saja akibat penyakit saya sejak dulu

tentang bagaimana jika

.. hari ini berwujudlah seperti tidak terjadi apa-apa, teruslah berpikir seperti tidak pernah terjadi apa-apa, tak perlu orang lain tahu apa yang sedang terjadi dan apa sebenarnya yang sedang ada dalam pikiran. "When I find out all the reasons Maybe I'll find another way Find another day With all the changing seasons of my life Maybe I'll get it right next time An now that you've been broken down Got your head out of the clouds You're back down on the ground" -estranged/GnR- jadi, sebenarnya.. what life is about?

tentang Ikigai

.. kemarin sore, iseng melihat-lihat rak buku, dan mata saya tertuju pada buku berjudul The Book of Ikigai karangan Ken Mogi.  Saya benar-benar lupa kapan membeli buku itu dan alasannya apa.   Setelah saya baca pelan-pelan pada beberapa halaman awal, kok menarik, gaya bertuturnya juga enak dicerna, padahal ini buku terjemahan. Akhirnya saya tuntaskan membaca hingga kira-kira sepertiga isinya, sampai akhirnya saya mengantuk dan memutuskan untuk melanjutkannya di pagi hari. Tapi saya masih penasaran, kapan saya membeli buku ini.  Untung masih ada history pembelian di toped, dan untung saya membelinya via toko ijo itu.  Ternyata saya membeli buku itu pada bulan Juli tahun 2020 kemarin.  Nyaris setahun saya membeli buku tanpa tahu isinya bagaimana hehe Jadi, buku itu adalah tentang filosofi hidup dari Jepang, yang terdiri dari lima pilar utama: mengawali dari hal yang kecil, membebaskan diri, keselarasan & kesinambungan, kegembiraan akan hal-hal kecil dan  hadir di tempat & waktu s

tentang sadar diri

saya selalu beranggapan bahwa, tulisan ini, yang baca cuma diri saya sendiri, kalau ada yang lain yang ikutan baca itu adalah bonus.. dan baiklah, biar sesekali saya bercerita yang rada berat di sini, untuk saya sendiri. bahwa menjadi pengkhianat itu samasekali tidak menyenangkan, apalagi melakukannya berulang, melukai seseorang yang kau sayangi itu adalah dilematis, yang jelas itu salah. saya cuma ingin mengambil langkah yang tepat, ah tak perlu juga terlalu tepat, karena menyadari bahwa kesalahan yang berulang itu, nantipun setelah minta maaf, mungkin akan aku ulangi lagi. jadi, sepertinya aku akan menjauh dari sekeliling ini untuk sementara, mungkin bener-bener aku tidak  pantas untuk hidup dengan siapapun, tidak akan pantas untuk apapun. mengakui salah itu mudah, tapi untuk kemudian mengulanginya lagi? maunya apa? lalu tepatkah saya bercerita di sini? untuk sekedar memuntahkan marah pada diri sendiri. haruskah aku menghilangkan ikatan ini? apakah itu yang terbaik? apakah masih perl

tentang kejadian yang dialami sehari-hari

bukankah, jika seandainya percaya akan faith, akan adanya takdir, harusnya ikhlas dan tak ada masalah, apapun yang terjadi dalam hidup ini, semanis dan sepahit apapun.  tak akan bisa dihindari, mau lari kemanapun dan sejauh apapun. sudahlah terima saja jikalau percaya bahwa hidup sudah digariskan, bahwa manusia hanyalah pion sang Kuasa.  katanya percaya, yakin, tapi kok masih tidak percaya dengan kenyataan dan masih saja merasa kecewa. jadi konsep takdir untuk apa diyakini jikalau gitu? apa kemudian berkilah, bahwa: "aku kan manusia biasa, yang bla bla bla.." ---- wah tulisanku akhir-akhir ini ga asik.. udah ah. #lah

tentang Fade In dan Fade Out

.. repetitive menjadi konstan.. ada nilainya, ada ukurannya, dan konstan, itu artinya ada generator.. ada ulangan beberapa kali dan menghasilkan nilai yang sama, walau ada toleransi beberapa persen (Indra Q, 4 Juni 2021) ..kita semua pura-pura doang.. Proses F31 yang gagal sampai akhirnya jadi general maya.. tapi kerennya selalu ada konsep. Siklus hidup, down.. up .. euphoria.. turun lagi.. euphoria.. down lagi.. tapi jika fundamental bagus bakal naik lagi.  Dan siklus itu berulang.  Ada rencana exit.. saat breakout di siklus ketiga.  Harus tau kapan exit . --- Itu adalah cuplikan obrolan Indra Q di channel ruangkreasi tv, si jenius itu menceritakan tentang kejadiannya saat  fade out  dari Slank dan  fade in  ke BIP. -- sungguh ini postingan apalah, entahlah..

tentang pasal satu

.. jadi, setelah nekat-nekatan ikut daftar seleksi dewan pengawas itu, pada batas akhir waktu saya nanya sekretariat pendaftaran, dia bilang sampai batas akhir yang ditetapkan cuma ada tiga orang yang mendaftar.. tapi, pas pengumuman dipajang, ujug-ujug, ada peserta tambahan, peserta tambahan, dan itu adalah orang dalam lingkaran kekuasaan petinggi sekarang. saya sih ga masalah, karena tujuan awal ikutan seleksi hanya untuk uji nyali dan ikutan psikotes lagi setelah sekian lama tapi kalau kayak gini, kan kasar sekali mainnya.  coba jika sedari awal nama itu masuk, sama-sama masukin berkas di waktu yang telah ditentukan, lha ini muncul setelah batas akhir habis. tau gitu kan ga usah capek-capek ngejar sana sini untuk ngelengkapin berkas dan lain-lain sesuai waktu yang telah ditentukan. tapi memang, panitia selalu benar.. kzl.

tentang strategi

 ..menentukan langkah ke depan, duh intro yang serius sekali ini euy .. nyatanya adalah hal yang baru kepikiran sekarang bagi saya, yang hidupnya selama ini bener-bener ngikutin arus. sebuah contoh yang tidak bagus memang.. hidup kok tidak punya target yang jelas, hedeuh . saya nyaris tidak punya masterplan  untuk hidup saya sendiri, tapi rasanya ini sudah saatnya mereview dan evaluasi akan apa yang sudah terjadi selama ini, dan mau dibawa kemana hidup ini ke depannya. tapi tentu saja hal itu tidak akan saya publish di sini, saya seringkali masih mikir saat mau mangumbar aib diri sendiri hehe jadi, sebenarnya ini terkait dengan outline makalah untuk presentasi hari senin, terkait langkah stratejik untuk pengawasan salahsatu bumd di sini.  dan selalu pusing kalo mikirnya adalah sebuah sistem- asudahlah, ini tentang bagaimana mencari titik masalah yang terjadi selama ini, sama kinerja direksi, sama kondisi karyawan, sama aset, sama kualitas pelayanan, sama profit,.. dan sampai saat ini