Phyton Lapar
Phyton molurus nama speciesnya, rasanya itu satu-satunya ular yang akhirnya berani saya pegang, saya elus dan saya biarkan berkeliaran di meja kerja saya.
Itu kejadian sekitar 4 tahun silam, saat ditugaskan di Dinas Damkar. Karena memang kerjanya di bidang pemadaman kebakaran dan penyelamatan, otomatis urusan hewan liar (dan biasanya berbahaya) itu masuk dalam job desk saya. Walaupun tentu saja yang berani ke lapangan nangkepin kobra, biawak, anjing liar dan monyet liar dan sesekali ular piton itu adalah rekan-rekan yang lain, saya sih nontonin aja karena beralasan belum punya sertifikat keahliannya. (padahal emang takut je).
Nah piton India yang biasa dipanggil anak-anak damkar si Molu itu, ditemukan saat rescue, sepertinya bekas piaraan orang karena spesies melurus bukan endemik setempat. Akhirnya dipiara anak-anak sampai sekarang.
Dulu masih remaja, panjangnya rasanya masih sekitaran satu meteran saja. Anteng bener dipegang, makanya saya akhirnya berani megangnya setelah berpuluh tahun keder sama makhluk melata itu.
Barusan, saya liat status whatsapp anak-anak damkar. Si Molu sedang dikasih makan (biasanya sebulan sekali makannya) sama anak ayam warna warni. Itu karena stok makannya yang biasa tak tersedia di pasaran, sementara katanya kalau dikasih makan tikus putih (seperti saat dulu waktu saya kenal Molu) harganya cukup mahal.
Yang bikin terkejut, katanya Molu sudah nyaris dua bulan belum makan, setelah saya tanya katanya tak ada anggaran dari kantor untuk pakan hewan-hewan rescue.
Antara kasian, marah dan kesal sungguh mendengarnya.
Kalau dulu sih iya benaran karena kantor dinas masih baru dibentuk, tak ada anggaran untuk binatang yang baru direscue, jadi kalau ada anjing liar, monyet atau binatang apapun, ya urunan saja untuk ngasuh makannya. Sekarang sudah anggaran lancar masa ada yang beralasan tak ada anggaran.
Siyalan betul. Soalnya saya sedikit banyak tahu, bagaimana daleman kantor itu sekarang.
Ngebayangin ular (yang aku kenal) itu sampe kelaperan nyaris sebulan itu asli bikin darah cukup mendidih, masa sih sebulan sekali ga bisa ngasuh bantuan untuk makannya yang terhitung sedikit itu.
Jadi begitulah, tadi akhirnya mewanti-wanti sama temenku, kalau nanti misal Molu mau makan berkabar saja, biar sahabatnya ini yang kasih makan. Tak perlu menunggu orang-orang yang kebanyakan beralasan birokrasi hanya untuk berbagi dengan makhluk lainnya.


Komentar
Posting Komentar