Diriku ini Apa?

Bertahun-tahun hidup, rasanya seperti auto-pilot.  Mengarahkan diri sendiri.  Tak ada arahan yang benar-benar bisa dipegang agar bisa berpikir dan bertindak lebih baik.  Rasanya aku lebih banyak belajar siasat hidup dari buku-buku yang aku baca.  Parahnya, lagi-lagi aku belajar dari buku fiksi, beberapa dari karya bubin yang idealis tersebut.

Mari diingat-ingat sejak masa kecil.  Aku yang bingung karena hanya dikasih batasan larangan, tidak boleh ini itu, tanpa ada kesempatan untuk memberi respon atau feedback pada ortu, utamanya abah.  Aku hanya diajarin untuk patuh.  Aku pun hanya bisa jadi anak yang penurut, terkadang memberontak dengan caraku sendiri, tapi jarang.  Aku lebih jadi penakut.

Di sisi lain ada hal-hal yang membuatku bingung.  Ada tanggungjawab yang dibebankan bahkan tanpa aku mengerti harus bagaimana.  Yang teringat dulu saat ada kecelakaan di jalan depan rumah (dan ini beberapakali terjadi).  Aku dimarahin begitu saja saat adikku tak ada dekat aku.  Aku hanya bisa menerima dimarahi tanpa bisa apa-apa.  Hanya bingung kenapa adikku yang main entah kemana tanpa bilang, tapi aku yang dimarahin saat ortu khawatir dengan keberadaannya?

Aku baru sadar selama ini seakan-akan hanya menjadi saksi dan pelaku hidup dengan menjalani semuanya dengan seala-adanya, tak ada keinginan untuk menjadi lebih baik atau niat untuk berkompetisi atas apapun.  Semuanya serba dijalani seada-adanya,  go with the flow..

Sampai akhirnya sekolahku juga diarahkan, diatur, padahal aku sebenarnya tak ingin bersekolah di situ.  Tapi lagi-lagi aku hanya bisa patuh, tanpa bisa protes.  Akhirnya sekolah juga asal lulus saja.  Sering aku mikir apa segitu pemalasnyakah aku?

Lulus SMP aku ingin sekolah di minatku, entah kenapa aku suka manajemen.  Tapi disuruh sekolah di tempat yang aku bahkan tak tahu sebelumnya.  Aku yang bahkan takut sama darah harus berkompromi dengan ternak di sekolah.  Praktekku acak-acakan, walau masih ada beberapa pelajaran yang menarik bagiku seperti anatomi hewan.  Menyenangkan sekali itu.

Lulus sekolah kehewananan itu, aku yang sudah terlanjur sesat, ingin sekali sekolah di luar pulau.  Tapi tidak diperbolehkan karena alasan ekonomi.  Padahal aku cuma ingin izin saja.  Soal hidup sebenarnya aku siap nekat dimanapun caranya.

Tapi lagi-lagi aku memilih patuh.  Mendaftar kuliah di jurusan yang semakin aku sesat.  Urusan hutan aku pilih karena sama-sama biologi.  Sesederhana itu.  Kuliahku tentu saja kacau balau.  Nilai seala-adanya, belajar seala-adanya.  Kos juga terima apadanya.  Aku menjalani semuanya tanpa ada keinginan lebih baik, lagi-lagi tak ada keinginan untuk berkompetisi dengan apapun, dengan siapapun.

Sempat ikutan mapala, latihan karate, ikutan ngeband.  Tapi ya begitu-gitu saja. Tak totalitas.  Serba nanggung.  Sampai aku tak sadar kalau aku tak punya skill untuk diandalkan.  Berorganisasi pun rasanya jelek.

Bekerja pun, dengan ijazah smk itu, hanya karena keberuntungan.  Dikasih pengumuman, daftar terus lulus.  Kerja di semester 5 kuliah.

Di kerjaanpun, tak sesuai harapan.  Ujug-ujug dibuang kepala kantor ke desa yang cukup jauh, tanpa tahu pasti jobdesc-nya apa.  Dilempar dengan alasan perlu tenaga lapangan.  Padahal aku tahu saat itu ada lebih dari cukup tenaga lapangan di desa.

Kerjaku juga tak bisa dibanggakan.  Semuanya hanya bermodal keberuntungan atas ranah yang banyak tak aku mengerti.  Akibatnya selalu ada konflik dengan tempat kerjaan.  Dari awal kerja sampai beberapa tahun kemudian.  Rata-rata karena atasan di kantor juga maunya memerintah satu arah, sama sekali tak memperdulikan feedback dari staf, apalagi kroco kaya aku.

Aku ga menyalahkan siapa-siapa.  Hanya saja aku sepertinya kebanyakan dan kelamaan mikir terkadang.  Hingga semua tiba-tiba berlalu begitu saja.

Aku lanjut kuliah pun.  Rasanya hanya pas di Surabaya yang benar-benar kuliah.  Itu karena kawan kuliah yang menyenangkan semua dan materi kuliahnya persis seperti yang aku impikan saat akhir kelas di SMP.  Sampai kembali bekerja yang lumayan menyenangkan di kantor yang orangnya baik-baik.

Hingga lalu melanjutkan lagi kuliah di Jogja yang cukup semrawut.  Tak terbayang jika tak bertemu dosen-dosen pembimbing yang baik hati dan dibantu keberuntungan masa 'cuci gudang'.  Mahasiswa fase akhir diwajibkan lulus.  Pilihannya lulus atau DO.

Akhir tahun ke tujuh yang bikin aku cukup stress parah.  Sampai-sampai memikirkan untuk kabur dan menyepi entah kemana dan memulai kehidupan baru jikalau kuliah gagal.  Selain bayangan malu juga kewajiban tak masuk akal untuk mengembalikan beasiswa jika tak selesai kuliah itu sangat membebani pikiranku saat itu.

Toh, akhirnya masa itu usai.  Kembali ke kantor dan tetap merasa tak bisa apa-apa haha.  Bahkan aku merasa buah dari kuliah lama-lama itu tak begitu di notice sama penguasa.  Mereka tetap saja lebih menyukai orang-orang yang patuh dengan perintahnya.

Ironisnya di titik itu aku bukanlah orang yang patuh seperti masa kecilku.  Aku tumbuh jadi orang yang lebih suka mempertanyakan alasan-alasan kebijakan yang tak penting, dan itu rupanya mengusik ego beberapa orang.

Kembali seperti masa awal bekerja, aku dilempar kesana sini, tanpa aku bisa protes.  Menerima saja menjadi kawan pemadam, menjadi bawahan camat.  Aku tahu tujuannya agar mentalku jatuh. Tapi yaudahlah. Mungkin itu ganjaran atas kekeraskepalaanku yang tak mau tunduk mengiyakan sesuatu yang sebenarnya tak begitu tepat.

Dan tiba-tiba, aku ada di titik ini.  Mengetikkan hal ini, berusaha mengais-ngais memori panjang sambil bertanya kenapa, bagaimana dan apa diriku ini?  

Buat apa bercerita ini, ya?  Ya mungkin biar sadar diri.  Bahwa aku memang nyatanya lebih ke arah tak bisa apa-apa ternyata.  Skillku tiada.

Memang waktu sudah jauh berjalan, dan salahkah jika aku berusaha mencari motivasi biar hidupku menjadi lebih baik dan bisa belajar tentang hidup lagi?  Belajar tak ada batas waktunya, kan?

Ah, panjang sekali tulisan random ini.  Yang sempat-sempatnya aku tulis di sela deadline materi paparan yang terlanjur aku iyakan untuk dibawakan besok lusa.  Mengenai hal yang jujur aku tak kuasai dengan baik.

Tapi paling tidak menuliskan ini, membuatku sedikit lega. Walau tak jelas juntrungannya seperti biasa. ARGH.

Komentar

Postingan Populer