Langsung ke konten utama

old man

 

They dedicate their lives
To running all of his
He tries to please them all
This bitter man he is
Throughout his life the same
He's battled constantly
This fight he cannot win
A tired man they see no longer cares
The old man then prepares
To die regretfully
That old man here is me
-unforgiven/metallica/1991-
 
ya, hari ini. 
aku lelah. 


That old man here is me..
 
tahun ini, adalah nomor panggung Valentino Rossi, so what  Belum ada yang pantas dibanggakan dari hidup yang tak terasa sudah melebihi empat dasawarsa ini.
 
Hidupku habis di bangku sekolah, dan aku tak menyesalinya. Coba kita hitung: SD sampai SLTA adalah 12 tahun, S1 6 tahun, Pasca 9 tahun.. 27 tahun, sampai selama itu hidup dihabiskan untuk bersenang-senang..  smoga anak-anakku kelak tidak mengikuti jejak abahnya yang pemalas ini haha..

Saat ini, adalah bertanya-tanya pada diri sendiri, sebenernya apa sih yang dituju dalam hidup ini? Masihkah sesimpel dulu, masih mengikuti kemana air mengalir dan angin bertiup? Seklasik dan sepemalas itu kah masih?  Selalu yakin kalau esok masih ada, rejeki pasti akan selalu datang, bahwa akan selalu bakal menerima asal rajin memberi.  Masih kah begitu? Masihkah tak perlu perencanaan matang sebelum memutuskan sesuatu? Masihkah sembrono dan brutal dalam melangkah?

dan banyak lagi pertanyaan-pertanyaan, yang harusnya dilontarkan pada diri sendiri, paling tidak dua dasawarsa sebelumnya. perencanaanku memang kacau, dan masih saja betah dilakoni, padahal nanti endingnya mesti misuh-misuh sendiri, kampret haghaghag

Komentar

  1. HBD Om, wah saya harus sekolah 6 tahun lagi buat menyamai Pian berarti...

    BalasHapus
  2. baca ini kok kayak lagi mbaca diri sendiri ^^"

    selamat bertambah usia om warm. hebat selalu!

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

jejak bubin Lantang

jika ditanya salah satu kota yang ingin saya datengin sejak berpuluh tahun yang lalu, jawaban saya pastilah: Bandar Lampung.  Tentu karena nama-nama sudut kota itu lekat di otak saya, gara-gara karya bubin Lantang itulah. dan saya, akhirnya menjejakkan kaki juga di tanah impian itu.  Sengaja dari penginepan, naik gojeg ke Jl. Manggis.  Itu kalo di serial Anak-anak Mama Alin adalah lokasi rumahnya Wulansari- ceweknya 'Ra. Sedangkan di novel Bila, itu adalah jalan tempat kediamannya Puji- ceweknya Fay. di Bila, malah jelas dibilangin nomer rumahnya: empatbelas, ya persis nomer rumah saya dulu di kampung.  Melihat plang nama jalan Manggis saja saya senang tak terkira.   Apalagi habis itu menemukan rumah bernomor 14.  Dan saya baru tau kalo itu rumah pegawai perusahaan kereta api.  Rumah tua memang, persis seperti yang digambarin di buku. Belum cukup senang saya, saat berjalan ke arah barat, ternyata ujung jalan bermuara ke Pasir Gintung! Tempat legendaris yang digambarkan sebaga

hal-hal sederhana yang membuat pagi terasa lebih segar

.. seperti sepedaan sebentar, keliling-keliling bentar, jalan kaki seputar lokasi dimana tadi malam tertidur, menghirup udara pagi dalam-dalam, mendengarkan orang ngobrol- ya cuma mendengarkan saja tanpe perlu berkomentar apa-apa, kemudian melihat pucuk pohon- kucing berantem & kelaperan - televisi yang entah menceritakan tentang apa.. merasakan makanan yang tersedia dengan senang, pun itu membuat nyaman, tanpa perlu protes dengan kurangnya komposisi yang dirasakan lidah, terima dan telan saja pelan-pelan .. intinya adalah menerima dengan lapang dada, apa yang dirasakan panca indera, tanpa berusaha melawannya, sebentar saja, cukup sebentar .. kemudian, menuliskannya dengan tanpa memikirkan macam-macam, tanpa memikirkan hal-hal berat penuh teori yang anehaneh dan bikin pusing, tuliskan saja lah, tak perlu memikirkan orang lain akan mengerti atau tidak, karena ini hanyalah kepuasan pagi, untuk diri sendiri .. hal-hal sederhana, memang selalu membuat .. Tampaknya karena pekerjaan belu

tentang tujuan bercerita di sosial media

 ..barusan pasang status di facebook,  tentang makanan kucing & tukang ojek, lalu setelah saya baca ulang, atas review seorang kawan, itu tak begitu bagus, malah terkesan riya' karena jadinya fokus atas senangnya saya karena kucing & tukang ojek itu.. akhirnya saya putuskan untuk membikin private  status unfaedah itu..  baiklah, mungkin habis ini, saya kudu baca ulang lagi sebelum publish  sesuatu di sosmed, walau nyatanya, sosmed diciptakan lebih untuk ajang pamer, pamer apapun, sesederhana apapun, untuk mendulang reaksi, baik tanda jempol, maupun tanda hati, komentar yang membuat senang, dan bla bla bla lainnya.. jadinya gimana? yaudah besok-besok mari kita pikirin lagi sebelum tayang.. eh kita? aku aja kali..