Langsung ke konten utama

hidup tanpa konsep untuk kemudian belajar

 apa itu istilahnya; mengalir bagai air, goin' where the wind blows katanya Mr BIG. Setelah sekian lama, saya baru menyadari kalau mengikuti gaya hidup begitu, di satu sisi bagus karena kadang tanpa beban, tapi sebenarnya-bagaimanapun- perencanaan itu penting, hingga paling tidak tahu step-by-step hidup ini mau dijalani seperti apa dan bagaimana..

tapi menyesalkan saya selalu penganut gaya hidup seperti itu dan selalu mengandalkan keberuntungan selama bertahun-tahun? tentu saja itu tidak perlu.  ada yang telah mengajari saya untuk lebih memperbaiki rencana menjejakkan kaki esok hari. dan saya ingin belajar lagi. learn.

hidup memang harus belajar untuk lebih berani lagi, ternyata begitu.

Komentar

  1. Aku tipe yg selalu punya rencana A,B,C bahkan sampe D kalo perlu untuk back up plan. Tapi bukan berarti saklek. Contohnya kayak pandemi ini aja. Semua plan2 yang dibuat dr awal tahun harus bhaaay, Krn memang ga bisa diimplementasikan di saat sedang begini :D. Baru deh, bersikap fleksibel berguna di sini. Kalo ga gitu, stress mungkin Krn target ga ada yg tercapai :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. nah itu, saya sebenernya kerja di kantor bagian perencanaan, tapi merencanakan hidup sendiri awut-awutan, pemalas skali bikin list to do, skalinya apa yg diinginkan ga terwujud manyun sendiri, kan saya jd sebel sama diri sendiri :))

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

jejak bubin Lantang

jika ditanya salah satu kota yang ingin saya datengin sejak berpuluh tahun yang lalu, jawaban saya pastilah: Bandar Lampung.  Tentu karena nama-nama sudut kota itu lekat di otak saya, gara-gara karya bubin Lantang itulah. dan saya, akhirnya menjejakkan kaki juga di tanah impian itu.  Sengaja dari penginepan, naik gojeg ke Jl. Manggis.  Itu kalo di serial Anak-anak Mama Alin adalah lokasi rumahnya Wulansari- ceweknya 'Ra. Sedangkan di novel Bila, itu adalah jalan tempat kediamannya Puji- ceweknya Fay. di Bila, malah jelas dibilangin nomer rumahnya: empatbelas, ya persis nomer rumah saya dulu di kampung.  Melihat plang nama jalan Manggis saja saya senang tak terkira.   Apalagi habis itu menemukan rumah bernomor 14.  Dan saya baru tau kalo itu rumah pegawai perusahaan kereta api.  Rumah tua memang, persis seperti yang digambarin di buku. Belum cukup senang saya, saat berjalan ke arah barat, ternyata ujung jalan bermuara ke Pasir Gintung! Tempat legendaris yang digambarkan sebaga

#38. Tiga kali 3 Blog Favorit

Sesekali ikutan kuis di blognya orang, kebetulan masih ada aja yang suka seru-seruan bikin kuis-kuisan semacam itu hehe.  Baru mengetik satu baris pun, saya sudah terbayang blog-blog yang seringkali saya tunggu apdetannya, walau kenyataannya dari tiga blog yang saya sering tunggu-tunggu itu, ada satu yang sudah lama tenggelam dengan kesibukan dunia kerjanya. Satunya lagi apdetannya kadang-kadang tapi masih cukup sering apdet lagi sekarang, satunya lagi entahlah, dia apdet sesuai mood hehe Sebenernya banyak sih blog yang suka saya kunjungi, dan ya biasanya tentu saya kunjungi kala mereka apdet di akun feedly saya.  Tapi soal favorit, tiga ini yang otomatis kepikiran. / 1. blognya jeung Indie. https://sumpahserapahku.blogspot.com/ Gaya berceritanya bebas dan semau-maunya, ntapi rapi dan suka panjang-panjang. Gaya bahasanya asik, dan sering membawa bertualang ke jaman 80-90-an haha.  Terakhir kali apdet nyaris tiga tahun yang lalu, tapi saya tak pernah bosan menunggu beliau khilaf dan ap

#39. Takka Steel Bike Conseres (TSBC 150)

Tahun 2020 kemarin, saya melihat postingan temen saya mas Agung Nugroho di facebook yang memamerkan sepeda lipat barunya.  Unik bentuknya, double tubing -nya mengingatkan saya pada doppelganger yang dulu sempet mau saya beli dari temennya istri namun batal.  Sekilas seperti perkawinan antara troy dan doppelganger . Setelah saya cari-cari informasi, itu bikinan lokal, sepeda lipat keren itu buatan mas Adhitya Atmadja dari Karanganyar.  Yang dijual cuma berupa frameset, sistem pre order , yang waktu saya awal tertarik konon antriannya sudah beberapa bulan ke depan. Nama sepedanya Takka Steel Bike seri Conseres. Nama yang berasal dari nama putra buildernya. Menariknya lagi, harga frameset tidak begitu mahal, untuk ukuran handmade, frame sepedalipat seharga 3.25 juta masih termasuk wajar untuk sebuah karya seni.  Saya anggap begitu karena benar-benar bukan pabrikan massal, sampai saat ini, rata-rata sehari cuma menghasilkan 1 (satu) frame, makanya kudu sabar menunggu pesanan selesai.