Langsung ke konten utama

tentang pekerjaan dan randomity

.. seseorang pernah berkata pada saya, saat saya terlihat malas-malasan dalam melakukan tugas saya. kurang lebihnya bahwa : "anda itu kan digaji.."

ringkas, padat dan menohok, dan itu kembali kepikiran setelah beberapa saat yang lalu saya menyelesaikan rekapitulasi sebuah daftar yang sebenarnya saya buat sambil kebanyakan mikir.  sejenak saya bisa tenggelam dalam aktifitas semacam pekerjaan itu.  dan kembali sisi lain pikiran saya memikirkan hal yang lain, tentang sebuah pendapat entah dari siapa (nantilah saya gugling) bahwa manusia itu sebenarnya hanya mengeluarkan satu persen kemampuannya.

Jadi, ya saya saat ini sedang bosan dengan pekerjaan ini, tapi ingin menulis di koran seperti keinginan sejak lama saya masih aja ketunda-tunda.  Ingin belajar reparasi dan seting sepeda, ya juga gitugitu aja belum berkembang blas.

Lalu maunya ini apa? Maunya ya kerja dan nyari duit lebih banyak lagi, tentu.  Haish piye ki. 

Komentar

  1. Kenapa juga nulis di koran, tergantung redaksi akan memuat apa nggak? Kan punya blog ��

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

jejak bubin Lantang

jika ditanya salah satu kota yang ingin saya datengin sejak berpuluh tahun yang lalu, jawaban saya pastilah: Bandar Lampung.  Tentu karena nama-nama sudut kota itu lekat di otak saya, gara-gara karya bubin Lantang itulah. dan saya, akhirnya menjejakkan kaki juga di tanah impian itu.  Sengaja dari penginepan, naik gojeg ke Jl. Manggis.  Itu kalo di serial Anak-anak Mama Alin adalah lokasi rumahnya Wulansari- ceweknya 'Ra. Sedangkan di novel Bila, itu adalah jalan tempat kediamannya Puji- ceweknya Fay. di Bila, malah jelas dibilangin nomer rumahnya: empatbelas, ya persis nomer rumah saya dulu di kampung.  Melihat plang nama jalan Manggis saja saya senang tak terkira.   Apalagi habis itu menemukan rumah bernomor 14.  Dan saya baru tau kalo itu rumah pegawai perusahaan kereta api.  Rumah tua memang, persis seperti yang digambarin di buku. Belum cukup senang saya, saat berjalan ke arah barat, ternyata ujung jalan bermuara ke Pasir Gintung! Tempat legendaris yang digambarkan sebaga