Langsung ke konten utama

tentang pekerjaan dan penghargaan

.. jadi ya, aku pikir, apa kerjaan di pemerintahan ini semata-mana hanya untuk mengejar penghargaan, membanggakan prestise, okelah kalau hal itu dijadikan salahsatu motivasi untuk bekerja lebih baik lagi, karena banyak yang tak ingin dipuji kalau pekerjaannya terlihat baik.  tapi kalau semacam sebuah inovasi malah hanya dijadikan objek untuk sombong-sombongan, atau di sisi lain sedih karena dianggap tidak inovatif.  Bukannya itu namanya jadi sesuatu yang dipaksakan, dengan tujuan utama: penghargaan.  Bukan untuk solusi atas permasalahan yang terjadi di suatu daerah atau tempat.

Terkadang panitia juga aneh dan entah bagaimana objektifitasnya, inovasi tak bisa dipaksakan, dia mengalir dari ide yang berasal dari kepala manusia yang bahkan sebelumnya tak terpikirkan kalau pemikirannya menjadi sesuatu yang baru dan bisa memberi jawaban atas sebuah permasalahan.  Dan bisakah hal itu dikuantifikasi? dengan standar-standar yang ditetapkan secara kaku?

Itulah masalah kuantifikasi, semua dinilai dengan angka.  

Jadi ingat film 3 Idiots, yang pada endingnya mengajarkan bahwa, kurang lebih. bekerja dan belajarlah sekuat tenaga dan sepenuh hati, penghargaan dan hal-hal lainnya akan mengikuti dengan sendirinya..

Jadi kenapa harus panik dan sedih jika tak memperoleh penghargaan atas pekerjaan yang memang sudah seharusnya menjadi beban kerjanya?  Padahal cukup melihat orang lain yang berurusan dengan kita terkait pekerjaan hisa tersenyum lega, atau melihat rekan kerja puas, itu sudah merupakan bentuk penghargaan.

Tapi, sekali lagi. Bekerja hanya untuk mengejar penghargaan? Mending jadi atlit, deh ..

Komentar

Postingan populer dari blog ini

jejak bubin Lantang

jika ditanya salah satu kota yang ingin saya datengin sejak berpuluh tahun yang lalu, jawaban saya pastilah: Bandar Lampung.  Tentu karena nama-nama sudut kota itu lekat di otak saya, gara-gara karya bubin Lantang itulah. dan saya, akhirnya menjejakkan kaki juga di tanah impian itu.  Sengaja dari penginepan, naik gojeg ke Jl. Manggis.  Itu kalo di serial Anak-anak Mama Alin adalah lokasi rumahnya Wulansari- ceweknya 'Ra. Sedangkan di novel Bila, itu adalah jalan tempat kediamannya Puji- ceweknya Fay. di Bila, malah jelas dibilangin nomer rumahnya: empatbelas, ya persis nomer rumah saya dulu di kampung.  Melihat plang nama jalan Manggis saja saya senang tak terkira.   Apalagi habis itu menemukan rumah bernomor 14.  Dan saya baru tau kalo itu rumah pegawai perusahaan kereta api.  Rumah tua memang, persis seperti yang digambarin di buku. Belum cukup senang saya, saat berjalan ke arah barat, ternyata ujung jalan bermuara ke Pasir Gintung! Tempat legendaris yang digambarkan sebaga