Langsung ke konten utama

hal sederhana.

. kadang, atau seringkali, aku berusaha untuk tidak melakukan hal yang tidak orang sukai. begitukah? padahal seringkali itu hanyalah hal yang sederhana saja. tapi saat aku sudah berusaha untuk itu, malah tidak dinotice, dan orang lain yang mendaparkan perlakuan seperti itu, malah melakukan yang sebaliknya..

kan nyebahi..

ngerti ndak?

atau jangan-jangan, yang sedang terjadi adalah sebaliknya, saya yang sedang di posisi sebagai objek, bukannya sebagai subjek..

tampaknya opsi terakhir ini, benar-benar membuat saya bakal mikir semalaman.. mungkin, saya memang pantas untuk menerima perlakuan dan perasaan yang nyebahi kui..

mungkin, aku benar-benar harus lari dan menjauh, dari segalanya, dari semuanya, entah mulai kapan dan sampai kapan..

Komentar

  1. ya ngga papa om berhenti sebentar. tapi yang namanya hidup ya begitu itu. kadang aku berpikir apakah mungkin lebih enak hidup sebagai koceng...

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya sih, tp kucing di teras rumah itu suka laperan dan malesan, ga pernah berburu tikus kyknya

      Hapus
  2. Nikmati saja sepanjang tak merugikan orang lain :)

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

jejak bubin Lantang

jika ditanya salah satu kota yang ingin saya datengin sejak berpuluh tahun yang lalu, jawaban saya pastilah: Bandar Lampung.  Tentu karena nama-nama sudut kota itu lekat di otak saya, gara-gara karya bubin Lantang itulah. dan saya, akhirnya menjejakkan kaki juga di tanah impian itu.  Sengaja dari penginepan, naik gojeg ke Jl. Manggis.  Itu kalo di serial Anak-anak Mama Alin adalah lokasi rumahnya Wulansari- ceweknya 'Ra. Sedangkan di novel Bila, itu adalah jalan tempat kediamannya Puji- ceweknya Fay. di Bila, malah jelas dibilangin nomer rumahnya: empatbelas, ya persis nomer rumah saya dulu di kampung.  Melihat plang nama jalan Manggis saja saya senang tak terkira.   Apalagi habis itu menemukan rumah bernomor 14.  Dan saya baru tau kalo itu rumah pegawai perusahaan kereta api.  Rumah tua memang, persis seperti yang digambarin di buku. Belum cukup senang saya, saat berjalan ke arah barat, ternyata ujung jalan bermuara ke Pasir Gintung! Tempat legendaris yang digambarkan sebaga

hal-hal sederhana yang membuat pagi terasa lebih segar

.. seperti sepedaan sebentar, keliling-keliling bentar, jalan kaki seputar lokasi dimana tadi malam tertidur, menghirup udara pagi dalam-dalam, mendengarkan orang ngobrol- ya cuma mendengarkan saja tanpe perlu berkomentar apa-apa, kemudian melihat pucuk pohon- kucing berantem & kelaperan - televisi yang entah menceritakan tentang apa.. merasakan makanan yang tersedia dengan senang, pun itu membuat nyaman, tanpa perlu protes dengan kurangnya komposisi yang dirasakan lidah, terima dan telan saja pelan-pelan .. intinya adalah menerima dengan lapang dada, apa yang dirasakan panca indera, tanpa berusaha melawannya, sebentar saja, cukup sebentar .. kemudian, menuliskannya dengan tanpa memikirkan macam-macam, tanpa memikirkan hal-hal berat penuh teori yang anehaneh dan bikin pusing, tuliskan saja lah, tak perlu memikirkan orang lain akan mengerti atau tidak, karena ini hanyalah kepuasan pagi, untuk diri sendiri .. hal-hal sederhana, memang selalu membuat .. Tampaknya karena pekerjaan belu

tentang tujuan bercerita di sosial media

 ..barusan pasang status di facebook,  tentang makanan kucing & tukang ojek, lalu setelah saya baca ulang, atas review seorang kawan, itu tak begitu bagus, malah terkesan riya' karena jadinya fokus atas senangnya saya karena kucing & tukang ojek itu.. akhirnya saya putuskan untuk membikin private  status unfaedah itu..  baiklah, mungkin habis ini, saya kudu baca ulang lagi sebelum publish  sesuatu di sosmed, walau nyatanya, sosmed diciptakan lebih untuk ajang pamer, pamer apapun, sesederhana apapun, untuk mendulang reaksi, baik tanda jempol, maupun tanda hati, komentar yang membuat senang, dan bla bla bla lainnya.. jadinya gimana? yaudah besok-besok mari kita pikirin lagi sebelum tayang.. eh kita? aku aja kali..