Langsung ke konten utama

tentang pergi dan menghilang beberapa jenak

.. aku mungkin sudah sampai puncak keletihanku, sepertinya. dan sepertinya suatu hari aku akan mewujudkan rencanaku untuk pergi, entah kemana selama beberapa hari, seorang diri saja.. menghilang dari circle untuk sementara..

bagaimana bisa hidupku akhir-akhir ini dipenuhi hal-hal yang itu-itu saja, ketidakpercayaan, distrust, ketidakpedulian, aku seperti kehilangan diriku sendiri, semua serba membingungkan..

mungkin childish menurutmu, seperti patah hati tak keruan. but I am. aku patah hati dengan keadaan, maka silakan saja tertawa, tertawai saja aku.  dan silakan berpuas diri, jikalau semua kecurigaan dan sakwasangka yang kau tuduhkan padaku adalah benar adanya.

bukankah memang selalu menyenangkan jikalau kecurigaanmu terbukti, semua pikiran negatifmu terhadapku terbukti, semua kesalahanku ternyata benar. bukankah itu yang kamu dan kalian inginkan, membuktikan bahwa aku adalah memang kumpulan semua kesalahan-kesalahan.

sekarang puas kan?

selamat menikmati dan berpuas diri atas segala kesalahan yang aku perbuat. kalian selalu benar, dan akulah yang memang selalu salah.

mari kita tunggu saatnya tiba.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

jejak bubin Lantang

jika ditanya salah satu kota yang ingin saya datengin sejak berpuluh tahun yang lalu, jawaban saya pastilah: Bandar Lampung.  Tentu karena nama-nama sudut kota itu lekat di otak saya, gara-gara karya bubin Lantang itulah. dan saya, akhirnya menjejakkan kaki juga di tanah impian itu.  Sengaja dari penginepan, naik gojeg ke Jl. Manggis.  Itu kalo di serial Anak-anak Mama Alin adalah lokasi rumahnya Wulansari- ceweknya 'Ra. Sedangkan di novel Bila, itu adalah jalan tempat kediamannya Puji- ceweknya Fay. di Bila, malah jelas dibilangin nomer rumahnya: empatbelas, ya persis nomer rumah saya dulu di kampung.  Melihat plang nama jalan Manggis saja saya senang tak terkira.   Apalagi habis itu menemukan rumah bernomor 14.  Dan saya baru tau kalo itu rumah pegawai perusahaan kereta api.  Rumah tua memang, persis seperti yang digambarin di buku. Belum cukup senang saya, saat berjalan ke arah barat, ternyata ujung jalan bermuara ke Pasir Gintung! Tempat legendaris yang digambarkan sebaga