Langsung ke konten utama

tentang minggu ini emas

.. jadi, ternyata saya ini masih saja kesusahan menata kalimat tiap kali ngobrol sama orang, sama siapapun. akhirnya maksud yang ingin saya sampaikan seringkali gagal, seringkali orang lain memaknainya berbeda dengan apa yang sebenarnya ada di otak dan pikiran saya.

menyusahkan?

ojelas tentu saja. sangat menyusahkan. saya seringkali berkata kalau komunikasinya saya kurang bagus, lebih tepatnya cara berkomunikasi saya teramat sangat jelek.  seringkali salah memilih kata-kata dan kalimat yang seharusnya bisa mewakili apa yang saya rasakan.

ajaibnya, terkadang ada orang yang bisa mengerti apa yang saya maksud dan inginkan, tanpa perlu banyak kata dan kalimat, tapi itu langka, sangat jarang sekali bertemu orang yang seperti itu.  sekalinya bertemu pun, waktu dan tempatnya juga teramat rare.

tapi, tentu saja saya selalu berusaha memperbaikinya... hmm.. ini kalimat yang salah, saya seringkali gagal mempelajari kesalahan-kesalahan saya, dan gagal itu tentu saja akibat penyakit saya sejak dulu yang masih saja dipiara: males.

yha.

ujung-ujungnya sakit hati sendiri, pusing sendiri, sudah tahu itu adalah konsekuensi. jadi, benar kata pepatah: hati-hati menjaga lidah. bahwa itu lebih tajam dari pedang yang setajam apapun.

maka dari itu, benar juga kata pepatah lainnya: bahwa diam itu adalah emas.

.

.

.

.

f..k!

Komentar

  1. Soal kecocokan saja. Kayaknya tidak semua orang punya bakat komunikastif untuk semua kalangan. Saya termasuk.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya juga sih, paman. Tp njenengan bagus komunikasi visualnya. soal komunikasi verbal, saya belum pernah sih ngobrol dg paman hehe

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

jejak bubin Lantang

jika ditanya salah satu kota yang ingin saya datengin sejak berpuluh tahun yang lalu, jawaban saya pastilah: Bandar Lampung.  Tentu karena nama-nama sudut kota itu lekat di otak saya, gara-gara karya bubin Lantang itulah. dan saya, akhirnya menjejakkan kaki juga di tanah impian itu.  Sengaja dari penginepan, naik gojeg ke Jl. Manggis.  Itu kalo di serial Anak-anak Mama Alin adalah lokasi rumahnya Wulansari- ceweknya 'Ra. Sedangkan di novel Bila, itu adalah jalan tempat kediamannya Puji- ceweknya Fay. di Bila, malah jelas dibilangin nomer rumahnya: empatbelas, ya persis nomer rumah saya dulu di kampung.  Melihat plang nama jalan Manggis saja saya senang tak terkira.   Apalagi habis itu menemukan rumah bernomor 14.  Dan saya baru tau kalo itu rumah pegawai perusahaan kereta api.  Rumah tua memang, persis seperti yang digambarin di buku. Belum cukup senang saya, saat berjalan ke arah barat, ternyata ujung jalan bermuara ke Pasir Gintung! Tempat legendaris yang digambarkan sebaga

#38. Tiga kali 3 Blog Favorit

Sesekali ikutan kuis di blognya orang, kebetulan masih ada aja yang suka seru-seruan bikin kuis-kuisan semacam itu hehe.  Baru mengetik satu baris pun, saya sudah terbayang blog-blog yang seringkali saya tunggu apdetannya, walau kenyataannya dari tiga blog yang saya sering tunggu-tunggu itu, ada satu yang sudah lama tenggelam dengan kesibukan dunia kerjanya. Satunya lagi apdetannya kadang-kadang tapi masih cukup sering apdet lagi sekarang, satunya lagi entahlah, dia apdet sesuai mood hehe Sebenernya banyak sih blog yang suka saya kunjungi, dan ya biasanya tentu saya kunjungi kala mereka apdet di akun feedly saya.  Tapi soal favorit, tiga ini yang otomatis kepikiran. / 1. blognya jeung Indie. https://sumpahserapahku.blogspot.com/ Gaya berceritanya bebas dan semau-maunya, ntapi rapi dan suka panjang-panjang. Gaya bahasanya asik, dan sering membawa bertualang ke jaman 80-90-an haha.  Terakhir kali apdet nyaris tiga tahun yang lalu, tapi saya tak pernah bosan menunggu beliau khilaf dan ap

#39. Takka Steel Bike Conseres (TSBC 150)

Tahun 2020 kemarin, saya melihat postingan temen saya mas Agung Nugroho di facebook yang memamerkan sepeda lipat barunya.  Unik bentuknya, double tubing -nya mengingatkan saya pada doppelganger yang dulu sempet mau saya beli dari temennya istri namun batal.  Sekilas seperti perkawinan antara troy dan doppelganger . Setelah saya cari-cari informasi, itu bikinan lokal, sepeda lipat keren itu buatan mas Adhitya Atmadja dari Karanganyar.  Yang dijual cuma berupa frameset, sistem pre order , yang waktu saya awal tertarik konon antriannya sudah beberapa bulan ke depan. Nama sepedanya Takka Steel Bike seri Conseres. Nama yang berasal dari nama putra buildernya. Menariknya lagi, harga frameset tidak begitu mahal, untuk ukuran handmade, frame sepedalipat seharga 3.25 juta masih termasuk wajar untuk sebuah karya seni.  Saya anggap begitu karena benar-benar bukan pabrikan massal, sampai saat ini, rata-rata sehari cuma menghasilkan 1 (satu) frame, makanya kudu sabar menunggu pesanan selesai.