Langsung ke konten utama

tentang Ikigai

.. kemarin sore, iseng melihat-lihat rak buku, dan mata saya tertuju pada buku berjudul The Book of Ikigai karangan Ken Mogi.  Saya benar-benar lupa kapan membeli buku itu dan alasannya apa.  

Setelah saya baca pelan-pelan pada beberapa halaman awal, kok menarik, gaya bertuturnya juga enak dicerna, padahal ini buku terjemahan. Akhirnya saya tuntaskan membaca hingga kira-kira sepertiga isinya, sampai akhirnya saya mengantuk dan memutuskan untuk melanjutkannya di pagi hari.

Tapi saya masih penasaran, kapan saya membeli buku ini.  Untung masih ada history pembelian di toped, dan untung saya membelinya via toko ijo itu.  Ternyata saya membeli buku itu pada bulan Juli tahun 2020 kemarin.  Nyaris setahun saya membeli buku tanpa tahu isinya bagaimana hehe

Jadi, buku itu adalah tentang filosofi hidup dari Jepang, yang terdiri dari lima pilar utama: mengawali dari hal yang kecil, membebaskan diri, keselarasan & kesinambungan, kegembiraan akan hal-hal kecil dan  hadir di tempat & waktu sekarang (present)..

Intinya adalah penerjemahan lateral dari kata ikigai itu sendiri : iki (untuk hidup) dan gai (alasan).  Isi bukunya menggambarkan filosofi ikigai melaui contoh-contoh sederhana yang memang dipraktekkan oleh sebagian besar orang Jepang- katanya begitu.

Jadi bingung sendiri bagaimana menguraikannya haha

Secara ringkas bisa dikatakan, ikigai adalah seni menikmati hidup, memaknai hidup, mencintai hidup- dengan hal-hal yang kadang terlihat sepele dan sederhana, tapi itu dilakukan dengan membebaskan diri dari ego apapun, dan dilakukan saat ini dan semata-mata hanya untuk hari ini.  Like there's no tomorrow.. Di sisi lain itu dilakukan secara konsisten dan terus menerus.. dengan ikhlas tanpa perlu pengakuan dan penghargaan dari orang lain.

Bahwa hidup itu adalah hari ini, besok akan mengikuti dengan sendirinya.  Hiduplah untuk hari ini.

Saya menggambarkannya seperti itu.  Tapi kok malah jadi semakin ribet.

Contoh sederhananya: menulis di blog ini.  Hal yang saya sukai sedari dulu, menuliskan sesuatu, walau sepele dan tidak penting bagi banyak orang.  Tapi terus saja saya lakukan karena itu menyenangkan, membuat saya lega dan tanpa sadar kadang saya berusaha memperbaiki cara bertutur saya, walaupun seringkali banyak malasnya hehe tapi saya senang, dan menulisnya dengan ikhlas, tanpa perlu pengakuan dari siapapun.  Menulis karena saya pengen dan terasa menyenangkan. Iya sesederhana itu.

Mungkin ini contoh yang bisa saya berikan dan yang saya rasakan..

Hal lainnya mungkin adalah: saya senang bikin orang lain senang, sesederhana apapun..  Itu sepertinya adalah ikigai saya yang lainnya, 


Komentar

  1. wah menarik.. bahwa kebahagiaan dilakukan di saat sekarang..

    kalo di milenial twitter dah didebat itu.. soal investasi dan memikirkan masa depan..

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehe sebenernya ada juga sih ara ke masa depannya mas, itu terkait pilar kesinambungan, tp ya intinya memang mencintai apa yg ada hari ini dan di masa skarang.. rada kesulitan saya menjelaskannya hehe

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

jejak bubin Lantang

jika ditanya salah satu kota yang ingin saya datengin sejak berpuluh tahun yang lalu, jawaban saya pastilah: Bandar Lampung.  Tentu karena nama-nama sudut kota itu lekat di otak saya, gara-gara karya bubin Lantang itulah. dan saya, akhirnya menjejakkan kaki juga di tanah impian itu.  Sengaja dari penginepan, naik gojeg ke Jl. Manggis.  Itu kalo di serial Anak-anak Mama Alin adalah lokasi rumahnya Wulansari- ceweknya 'Ra. Sedangkan di novel Bila, itu adalah jalan tempat kediamannya Puji- ceweknya Fay. di Bila, malah jelas dibilangin nomer rumahnya: empatbelas, ya persis nomer rumah saya dulu di kampung.  Melihat plang nama jalan Manggis saja saya senang tak terkira.   Apalagi habis itu menemukan rumah bernomor 14.  Dan saya baru tau kalo itu rumah pegawai perusahaan kereta api.  Rumah tua memang, persis seperti yang digambarin di buku. Belum cukup senang saya, saat berjalan ke arah barat, ternyata ujung jalan bermuara ke Pasir Gintung! Tempat legendaris yang digambarkan sebaga

hal-hal sederhana yang membuat pagi terasa lebih segar

.. seperti sepedaan sebentar, keliling-keliling bentar, jalan kaki seputar lokasi dimana tadi malam tertidur, menghirup udara pagi dalam-dalam, mendengarkan orang ngobrol- ya cuma mendengarkan saja tanpe perlu berkomentar apa-apa, kemudian melihat pucuk pohon- kucing berantem & kelaperan - televisi yang entah menceritakan tentang apa.. merasakan makanan yang tersedia dengan senang, pun itu membuat nyaman, tanpa perlu protes dengan kurangnya komposisi yang dirasakan lidah, terima dan telan saja pelan-pelan .. intinya adalah menerima dengan lapang dada, apa yang dirasakan panca indera, tanpa berusaha melawannya, sebentar saja, cukup sebentar .. kemudian, menuliskannya dengan tanpa memikirkan macam-macam, tanpa memikirkan hal-hal berat penuh teori yang anehaneh dan bikin pusing, tuliskan saja lah, tak perlu memikirkan orang lain akan mengerti atau tidak, karena ini hanyalah kepuasan pagi, untuk diri sendiri .. hal-hal sederhana, memang selalu membuat .. Tampaknya karena pekerjaan belu