Langsung ke konten utama

tentang anak mapala

.. sesekali saya ingin bercerita tentang salahsatu bagian hidup, yang sepertinya sudah pernah juga diceritakan, entah dimana lupa. mungkin sih ya.  soalnya saya kadang iseng bercerita tentang hidup saya yang sebenernya tak menarik-narik amat untuk diceritakan. tapi lebih sering malu menceritakannya.

jadi, literally, saya ikutan organisasi mahasiswa pencinta alam sejak kuliah di kehutanan dulu, walau agak telat, baru bisa ikutan latihan dasar (latdas) di tahun kedua kuliah, yang mana akhirnya saya dilatdas, oleh kawan seangkatan kuliah yang sudah masuk duluan dan otomatis jadi senior.  kesel juga sih semingguan dikerjain sebagian temen haha

tapi namanya anggota yang ikutan masuk  mapala  gara-gara cuma penasaran dan biar keliatan keren, jadi ga ada hal yang menarik selama jadi anggota.  Ya gitu-gitu aja, paling ikutan jadi panitia pas ada event, atau pas ada anggota baru.  kalo soal kegiatan lain sih, apa ya. Nyaris ga ada, naik gunung ya di sini ga ada gunungnya, mau naik gunung di pulai lain ga ada modalnya haha

tuh, kan. tidak menarik sama sekali ternyata.

nah itu urusan mapala yang kurang menarik itu, sekarang giliran mapala yang merupakan kepanjangan dari mahasiswa paling lama.. sebenernya saya tidak masuk paling lama juga sih, nyatanya masih banyak kawan satu angkatan yang menggenapkan kuliahnya sampai batas 14 semester, ya dulu dikasih batas waktu sampe tujuh tahun. Kan masih lumayan saya yang selesai kuliah di semester tigabelas :|

saya begitu malasnya dulu ternyata, enam setengah tahun, dengan ipk dua koma lima sekian. keren sekali dan sama sekali tidak patut dijadikan contoh anak muda masa kini. mungkin salahsatu penyebab saya juga tidak peduli dengan nilai, selain ya malas tadi itu, juga karena saya sudah keterima kerja di tahun ketiga kuliah, yang padahal kerjanya juga malas-malasan karena tidak sesuai ekspektasi, jadinya sampai pernah ada niat untuk berhenti kerja demi kuliah- 

waktu itu, pernah terancam drop out, karena target IPK nyaris ga tercapai saat evaluasi di akhir tahun kedua, untungnya bisa lolos dari syarat, tapi tetap sahaja, males dipiara. kalo dipikir-pikir ya ajaib juga dulu itu, sampai nentuin judul skripsi di akhir masa kuliah saja bingung, untunglah. selalu ada keberuntungan. skripsi dikasih dosen saya yang baik, bener-bener dikasih, dari judul sampai bahan penelitian, sampai komputer dipinjemin. itulah, untungnya ketemu orang-orang baik.

saya kira urusan mahasiswa paling lama ini usai sampai selesai wisuda, ternyata berlanjut tiga tahun kemudian saat dua tahun nerusin kuliah lagi di Surabaya.. dan kemudian berlanjut lagi lima tahun setelahnya di Jogja. Jadi total jenderal, saya berstatus mahasiswa selama 6+2+7 .. anggap aja segitu. karena nyatanya pas kuliah awal itu, sebenernya selesai di tahun ke 6, satu semester sisanya cuma ujian skripsi gara-gara dosen pembimbing keluar daerah saat detlen. 

wah ini apa-apaan, mau bercerita runut, malah ngaco juga pada akhirnya..

tapi, sungguh, saya selalu bilang sama kawan-kawan saya, bahwa di antara tiga tahap kuliah saya yang segitu panjang dan malasnya itu, yang paling susah tetaplah saat S1.  seriusan begitu. lha mau nyari nilai C aja segitu susahnya bagi saya. lha IPK saya baru nyampe angka 2, saat di tahun ketiga apa ke empat ya. parah memang.  makanya pas dulu teman-teman saya bahagia dapet nilai A, saya dapet C aja sudah senang luarbiasa. sederhana sekali.  Jadi, target IP saya dulu cukup 2,6, dan toh itu pun akhirnya tak tercapai, gara-gara dosen baperan nan sentimen, nilai magang yang saya gadang-gadang dapat nilai minimal B eh dikasih C. Nasib.

ya begitulah sementara ceritanya, tentang mapala. seandainya saya bisa menceritakannya lebih bagus lagi, ada pertanyaan lebih lanjut, mungkin? #lah

Komentar

Postingan populer dari blog ini

jejak bubin Lantang

jika ditanya salah satu kota yang ingin saya datengin sejak berpuluh tahun yang lalu, jawaban saya pastilah: Bandar Lampung.  Tentu karena nama-nama sudut kota itu lekat di otak saya, gara-gara karya bubin Lantang itulah. dan saya, akhirnya menjejakkan kaki juga di tanah impian itu.  Sengaja dari penginepan, naik gojeg ke Jl. Manggis.  Itu kalo di serial Anak-anak Mama Alin adalah lokasi rumahnya Wulansari- ceweknya 'Ra. Sedangkan di novel Bila, itu adalah jalan tempat kediamannya Puji- ceweknya Fay. di Bila, malah jelas dibilangin nomer rumahnya: empatbelas, ya persis nomer rumah saya dulu di kampung.  Melihat plang nama jalan Manggis saja saya senang tak terkira.   Apalagi habis itu menemukan rumah bernomor 14.  Dan saya baru tau kalo itu rumah pegawai perusahaan kereta api.  Rumah tua memang, persis seperti yang digambarin di buku. Belum cukup senang saya, saat berjalan ke arah barat, ternyata ujung jalan bermuara ke Pasir Gintung! Tempat legendaris yang digambarkan sebaga

#38. Tiga kali 3 Blog Favorit

Sesekali ikutan kuis di blognya orang, kebetulan masih ada aja yang suka seru-seruan bikin kuis-kuisan semacam itu hehe.  Baru mengetik satu baris pun, saya sudah terbayang blog-blog yang seringkali saya tunggu apdetannya, walau kenyataannya dari tiga blog yang saya sering tunggu-tunggu itu, ada satu yang sudah lama tenggelam dengan kesibukan dunia kerjanya. Satunya lagi apdetannya kadang-kadang tapi masih cukup sering apdet lagi sekarang, satunya lagi entahlah, dia apdet sesuai mood hehe Sebenernya banyak sih blog yang suka saya kunjungi, dan ya biasanya tentu saya kunjungi kala mereka apdet di akun feedly saya.  Tapi soal favorit, tiga ini yang otomatis kepikiran. / 1. blognya jeung Indie. https://sumpahserapahku.blogspot.com/ Gaya berceritanya bebas dan semau-maunya, ntapi rapi dan suka panjang-panjang. Gaya bahasanya asik, dan sering membawa bertualang ke jaman 80-90-an haha.  Terakhir kali apdet nyaris tiga tahun yang lalu, tapi saya tak pernah bosan menunggu beliau khilaf dan ap

#39. Takka Steel Bike Conseres (TSBC 150)

Tahun 2020 kemarin, saya melihat postingan temen saya mas Agung Nugroho di facebook yang memamerkan sepeda lipat barunya.  Unik bentuknya, double tubing -nya mengingatkan saya pada doppelganger yang dulu sempet mau saya beli dari temennya istri namun batal.  Sekilas seperti perkawinan antara troy dan doppelganger . Setelah saya cari-cari informasi, itu bikinan lokal, sepeda lipat keren itu buatan mas Adhitya Atmadja dari Karanganyar.  Yang dijual cuma berupa frameset, sistem pre order , yang waktu saya awal tertarik konon antriannya sudah beberapa bulan ke depan. Nama sepedanya Takka Steel Bike seri Conseres. Nama yang berasal dari nama putra buildernya. Menariknya lagi, harga frameset tidak begitu mahal, untuk ukuran handmade, frame sepedalipat seharga 3.25 juta masih termasuk wajar untuk sebuah karya seni.  Saya anggap begitu karena benar-benar bukan pabrikan massal, sampai saat ini, rata-rata sehari cuma menghasilkan 1 (satu) frame, makanya kudu sabar menunggu pesanan selesai.